Puisi Terakhir untuk Pak Guru
“Selamat
Pagi Pak?” Sapaku pada Pak guru pagi itu, kami berpapasan di koridor sekolah.
“Selamat
Pagi Dimas” Jawabnya.
“Besok
ada pelajaran bapak di kelas 2A, apa bapak mau masuk?” Aku bertanya karena Pak
Ridho memang jarang masuk kelas.
“Oh
besok ya? Iya tentu bapak akan masuk.” Jawab Pak Ridho.
“Baik
Pak terimakasih.”
Aku
menanyakan apakah Pak Ridho mau masuk atau tidak besok, karena memang biasanya
Pak Ridho itu jarang masuk kelas. Anak anak menyangka kalau beliau gak bener
jadi Guru karena jarang masuk. Alasannya ada pelatihan gurulah, ada saudara
sakitlah, kurang enak badanlah, itu dan itu saja alasannya bergantian. Tetapi
Pak Ridho juga termasuk guru Sastra Indonesia terfavorit karena cara ngajarnya
itu sangat mudah dimengerti oleh kami, tidak hanya kelas 11, tetapi kelas
10,dan 12 pun puas dengan cara Pak Ridho mengajar.
“Dimas!
Dimas!” Ada yang panggil aku ternyata Si Rio.
“Kamu
ketemu sama Pak Ridho kan? Gimana besok Pak Ridho masuk kan?” tanya Rio.
“Iya
Yo, Pak Ridho akan masuk besok.” Jawabku.
“Syukurlah.
Gimana jadinya kalo dia dua kali berturut turut gak masuk kelas? Walaupun
pelajaran Bahasa Indonesia itu gak perlu dijelasin panjang lebar, tapi kak
tetep kita butuh guru untuk lebih menjelaskan pelajaran tersebut. Selain itu,
anak anak malah males belajar kalo gak ada gurunya.” Jelas Rio.
“Iya
Yo aku juga bersyukur.” Kataku.
Besoknya
aku sangat bersemangat untuk pergi sekolah, karena Pak Ridho akan masuk. Aku
suka sekali pelajaran Bahasan Indonesia, karena cita citaku adalah jadi
sastrawan. Dan setelah tamat SMA ini, aku berniat untuk melanjutkan kuliah di
Prodi Sastra Indonesia, Universitas Indonesia.
Aku
juga suka membuat puisi, sering ikutan lomba Cipta Puisi, lomba baca puisi,
cerpen, novel, dan banyak karya karyaku jika aku bukukan mungkin ada sekitar 10
buku.
“Assalamualaikum
anak anak?” Pak Ridho masuk kelas dan mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam
Pak ..” Jawab kami serentak.
“Bagaimana
sudah siap untuk belajar ?” Tanya Pak Ridho.
“Sudah
Pak..”jawab anak anak serempak.
“Minggu
lalu ada kabar bapak tidak masuk karena ada saudara bapak yang dibawa kerumah
sakit ya Pak?” tanya Rio.
“Oh
iya minggu lalu, maafkan bapak ya, ada banyak gangguan jadi bapak tidak
maksimal mengajar kalian.” Pak Ardi terlihat sungguh sungguh.
“Iya
pak tidak apa apa” jawab kami serentak.
“Asal
jangan terlalu sering ya Pak!.” Kata Doni yang duduk di kursi paling belakang.
Anak
anak dan Pak Ridho pun tertawa.
Proses
belajar mengajar berlangsung sangat kondusif dengan materi puisi yang diajarkan.
Kami diberikan tips dan trik untuk membuat puisi dengan mudah. Dan kami juga
bergantian untuk membacakan puisi di depan kelas.Yaa seperti biasa, aku selalu
mendapat pujian dari Pak Ridho. Anak anakpun selalu bersorah dan bertepuk
tangan dengan ramai setelah aku beres membacakan Puisiku. Setelah proses
belajar pembelajaran selesai, Pak ardi memberikan pengumuman.
“Anak
anak, minggu depan hari Kamis tanggal 2 Mei bertepatan dengan peringatan hari
Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan kota Banjar akan mengadakan lomba baca
puisi dengan puisi asli karya peserta. Bapak berharap sekolah kita bisa menjadi
juaranya.”
“Dimas
aja Pak, pasti sekolah kita juara.” Kata Rio yang selalu memujiku.
“Iya
tidak hanya dimas saja, kalian juga boleh ikut untuk mengharumkan nama sekolah
kita ini. nah siapkan puisi kalian, untuk audisi pemilihan perakilan dari
sekolah kita ini. Pak kepala sekolah dan semua giru sastra yang akan menjadi
jurinya.” Jelas Pak Ardi.
Sepulang
sekolah, aku langsung memikirkan judul puisi yang akan kubuat untuk audisi lusa
di sekolah. “Kira kira puisi apa ya yang akan aku bacakan ? ah bagaimana kalo
judulnya guru saja? tunggu! Tapi itu terlalu familiar. Bagaimana dengan
sekolah? Ah itu juga terkesan luas dan tidak spesifik. Terus apa ya?” kataku berbicara
sendiri. Sampai kedengaran ke ruang keluarga.
“Udah
pilih aja salah satu guru disekolahmu yang sangat kamu kagumi, jadikan nama
guru itu sebagai judul puisimu, dan utarakan semua hal tentang dia yang
membuatmu sangat mengaguminya.” Saran ibuku.
Aku
langsung membuka pintu kamar. “Apa bu? Salah satu guru yang aku kagumi?” dengan
keningku yang berkerut mencoba untuk mengerti apa maksud ibuku. Ibuku adalah
sarjana sastra dulunya. Itu sebabnya beliau sangat tahu tentang puisi dan juga
sering memberi ide ide di setiap puisi yang aku buat.
“Iya..
Dim, salah satu gurumu saja.” tegas ibu.
“Eu…
Oke! Aku mengerti maksud ibu.” Kataku yang memang sudah tau apa yang harus aku
tulis.
Lusa
pun tiba, aku segera memasuki kelas yang didalamnya sudah ada para juri. Aku tersadar
bahwa diantara juri itu tidak ada Pak Ridho.
“Maaf
Pak, Pak Ridho kemana ya?” tanya ku kepada Bapak kepala sekolah.
“Oh
Pak Ridho, katanya dia ngurusin keluarganya yang sedang sakit jadi gak bisa
kesini.
“Oh
begitu ya Pak. Terima kasih Pak.” Kataku.
“Baik
silahkan mulai saja.” Kata pak kepala sekolah.
“Baik
pak.” Siapku.
Semua
juara bertepuk tangan. Akhirnya sampailah pada pengumuman yang ditunggu tunggu.
Dan Alhamdulillah aku yang terpilih sebagai perwakilan dari sekolah.
Tanggal
2 Mei 2019 pun tiba, aku berdoa supaya dapat memberikan yang terbaik untuk
sekolahku. Aku juga berharap Pak Ridho datang. Tiba tiba Rio dapat telepon dari
Pak Dani, guru sastra kelas 10 yang rumahnya bertetanggaan dengan Pak Ridho.
Katanya Pak Ridho meninggal. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, beliau
sempat memberi amanat kepada Pak Dani untuk menyemangati ku hari ini. dan
beliau berdoa semoga aku bisa juara. Alangkah sedihnya aku waktu itu, tak sadar
aku berlinang air mata. Rio berkata padaku bahwa dia menyesal telah berpikiran
aneh selama ini. ternyata beliau jarang masuk bukan karena mengurusi
keluarganya sendiri, tetapi beliaulah yang sakit dan dirawat waktu itu. Sebelum
tampil membacakan puisi di panggung, aku memejamkan mata dan berdoa untuk Pak
Ridho.
Pak ini adalah puisi terakhirku
untukmu dan aku akan menjadi juara untuk Bapak.
Pak
Ridho
Kala fajar menyingsing
Dengan harap yang tiada henti
Sepeda kusam yang ia miliki
Tak menghilangkan semangat tuk
mencerdaskan ibu pertiwi
Pahlawan tanpa tanda jasa
Menjungjung tinggi sastra
Indoinesia
Menebarkan benih sastra
Hingga jaya Indonesia




