Saturday, November 30, 2019

Contoh Cerpen


Puisi Terakhir untuk Pak Guru



“Selamat Pagi Pak?” Sapaku pada Pak guru pagi itu, kami berpapasan di koridor sekolah.

“Selamat Pagi Dimas” Jawabnya.

“Besok ada pelajaran bapak di kelas 2A, apa bapak mau masuk?” Aku bertanya karena Pak Ridho memang jarang masuk kelas.

“Oh besok ya? Iya tentu bapak akan masuk.” Jawab Pak Ridho.

“Baik Pak terimakasih.”

Aku menanyakan apakah Pak Ridho mau masuk atau tidak besok, karena memang biasanya Pak Ridho itu jarang masuk kelas. Anak anak menyangka kalau beliau gak bener jadi Guru karena jarang masuk. Alasannya ada pelatihan gurulah, ada saudara sakitlah, kurang enak badanlah, itu dan itu saja alasannya bergantian. Tetapi Pak Ridho juga termasuk guru Sastra Indonesia terfavorit karena cara ngajarnya itu sangat mudah dimengerti oleh kami, tidak hanya kelas 11, tetapi kelas 10,dan 12 pun puas dengan cara Pak Ridho mengajar.

“Dimas! Dimas!” Ada yang panggil aku ternyata Si Rio.

“Kamu ketemu sama Pak Ridho kan? Gimana besok Pak Ridho masuk kan?” tanya Rio.

“Iya Yo, Pak Ridho akan masuk besok.” Jawabku.

“Syukurlah. Gimana jadinya kalo dia dua kali berturut turut gak masuk kelas? Walaupun pelajaran Bahasa Indonesia itu gak perlu dijelasin panjang lebar, tapi kak tetep kita butuh guru untuk lebih menjelaskan pelajaran tersebut. Selain itu, anak anak malah males belajar kalo gak ada gurunya.” Jelas Rio.

“Iya Yo aku juga bersyukur.” Kataku.

Besoknya aku sangat bersemangat untuk pergi sekolah, karena Pak Ridho akan masuk. Aku suka sekali pelajaran Bahasan Indonesia, karena cita citaku adalah jadi sastrawan. Dan setelah tamat SMA ini, aku berniat untuk melanjutkan kuliah di Prodi Sastra Indonesia, Universitas Indonesia.

Aku juga suka membuat puisi, sering ikutan lomba Cipta Puisi, lomba baca puisi, cerpen, novel, dan banyak karya karyaku jika aku bukukan mungkin ada sekitar 10 buku.

“Assalamualaikum anak anak?” Pak Ridho masuk kelas dan mengucapkan salam.

“Waalaikumsalam Pak ..” Jawab kami serentak.

“Bagaimana sudah siap untuk belajar ?” Tanya Pak Ridho.

“Sudah Pak..”jawab anak anak serempak.

“Minggu lalu ada kabar bapak tidak masuk karena ada saudara bapak yang dibawa kerumah sakit ya Pak?” tanya Rio.

“Oh iya minggu lalu, maafkan bapak ya, ada banyak gangguan jadi bapak tidak maksimal mengajar kalian.” Pak Ardi terlihat sungguh sungguh.

“Iya pak tidak apa apa” jawab kami serentak.

“Asal jangan terlalu sering ya Pak!.” Kata Doni yang duduk di kursi paling belakang.

Anak anak dan Pak Ridho pun tertawa.

Proses belajar mengajar berlangsung sangat kondusif dengan materi puisi yang diajarkan. Kami diberikan tips dan trik untuk membuat puisi dengan mudah. Dan kami juga bergantian untuk membacakan puisi di depan kelas.Yaa seperti biasa, aku selalu mendapat pujian dari Pak Ridho. Anak anakpun selalu bersorah dan bertepuk tangan dengan ramai setelah aku beres membacakan Puisiku. Setelah proses belajar pembelajaran selesai, Pak ardi memberikan pengumuman.

“Anak anak, minggu depan hari Kamis tanggal 2 Mei bertepatan dengan peringatan hari Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan kota Banjar akan mengadakan lomba baca puisi dengan puisi asli karya peserta. Bapak berharap sekolah kita bisa menjadi juaranya.”

“Dimas aja Pak, pasti sekolah kita juara.” Kata Rio yang selalu memujiku.

“Iya tidak hanya dimas saja, kalian juga boleh ikut untuk mengharumkan nama sekolah kita ini. nah siapkan puisi kalian, untuk audisi pemilihan perakilan dari sekolah kita ini. Pak kepala sekolah dan semua giru sastra yang akan menjadi jurinya.” Jelas Pak Ardi.

Sepulang sekolah, aku langsung memikirkan judul puisi yang akan kubuat untuk audisi lusa di sekolah. “Kira kira puisi apa ya yang akan aku bacakan ? ah bagaimana kalo judulnya guru saja? tunggu! Tapi itu terlalu familiar. Bagaimana dengan sekolah? Ah itu juga terkesan luas dan tidak spesifik. Terus apa ya?” kataku berbicara sendiri. Sampai kedengaran ke ruang keluarga.

“Udah pilih aja salah satu guru disekolahmu yang sangat kamu kagumi, jadikan nama guru itu sebagai judul puisimu, dan utarakan semua hal tentang dia yang membuatmu sangat mengaguminya.” Saran ibuku.

Aku langsung membuka pintu kamar. “Apa bu? Salah satu guru yang aku kagumi?” dengan keningku yang berkerut mencoba untuk mengerti apa maksud ibuku. Ibuku adalah sarjana sastra dulunya. Itu sebabnya beliau sangat tahu tentang puisi dan juga sering memberi ide ide di setiap puisi yang aku buat.

“Iya.. Dim, salah satu gurumu saja.” tegas ibu.

“Eu… Oke! Aku mengerti maksud ibu.” Kataku yang memang sudah tau apa yang harus aku tulis.

Lusa pun tiba, aku segera memasuki kelas yang didalamnya sudah ada para juri. Aku tersadar bahwa diantara juri itu tidak ada Pak Ridho.

“Maaf Pak, Pak Ridho kemana ya?” tanya ku kepada Bapak kepala sekolah.

“Oh Pak Ridho, katanya dia ngurusin keluarganya yang sedang sakit jadi gak bisa kesini.

“Oh begitu ya Pak. Terima kasih Pak.” Kataku.

“Baik silahkan mulai saja.” Kata pak kepala sekolah.

“Baik pak.” Siapku.

Semua juara bertepuk tangan. Akhirnya sampailah pada pengumuman yang ditunggu tunggu. Dan Alhamdulillah aku yang terpilih sebagai perwakilan dari sekolah.

Tanggal 2 Mei 2019 pun tiba, aku berdoa supaya dapat memberikan yang terbaik untuk sekolahku. Aku juga berharap Pak Ridho datang. Tiba tiba Rio dapat telepon dari Pak Dani, guru sastra kelas 10 yang rumahnya bertetanggaan dengan Pak Ridho. Katanya Pak Ridho meninggal. Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, beliau sempat memberi amanat kepada Pak Dani untuk menyemangati ku hari ini. dan beliau berdoa semoga aku bisa juara. Alangkah sedihnya aku waktu itu, tak sadar aku berlinang air mata. Rio berkata padaku bahwa dia menyesal telah berpikiran aneh selama ini. ternyata beliau jarang masuk bukan karena mengurusi keluarganya sendiri, tetapi beliaulah yang sakit dan dirawat waktu itu. Sebelum tampil membacakan puisi di panggung, aku memejamkan mata dan berdoa untuk Pak Ridho.

Pak ini adalah puisi terakhirku untukmu dan aku akan menjadi juara untuk Bapak.

Pak Ridho

Kala fajar menyingsing

Dengan harap yang tiada henti

Sepeda kusam yang ia miliki

Tak menghilangkan semangat tuk mencerdaskan ibu pertiwi

Pahlawan tanpa tanda jasa

Menjungjung tinggi sastra Indoinesia

Menebarkan benih sastra

Hingga jaya Indonesia


Cerpen ini pernah saya publikasikan untuk mengikuti lomba cipta cerpen peringatan hari pendidikan nasional yang diselenggarakan oleh salah satu universitas di Indonesia.

No comments:

Post a Comment