Sunday, November 17, 2019

PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN
SISTEM PENCERNAAN PADA
Paramecium sp.
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas praktikum mata kuliah Fisiologi Hewan yang diampu oleh Siti Nurkamilah, M.Pd.




Disusun Oleh :
Lutfi Moch Fauzi    (17541003)
Ayu Mutia             (17542003 )
Elsa Nursafitri Utami (17542012)
Anisa Mutmainah (17543004)
Pina Yulianti          (17543011)
Yuli Sumiati           (17543018)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS ILMU TERAPAN DAN SAINS
INSTITUT PENDIDIKAN INDONESIA (IPI) GARUT
2019

Judul Praktikum : Pencernaan Makanan Pada Paramecium sp
Hari/ Tanggal     : 11 November 2019
I.                   Tujuan : Untuk mengetahui proses siklois dan pengeluaran sisa makanan yang tidak dicerna  ( Defekasi ) pada Paramecium sp
II.                Landasan Teori
       Metabolisme merupakan aktivitas hidup yang selalu terjadi pada setiap sel hidup, pada metabolisme sel bahan dan energy diperoleh dari lingkungan sel yang berupa cairan (kusmiawati, 2014:1). Secara umum metabolisme memiliki dua arah lintasan kimia organik, yaitu katabolisme dan anabolisme. Katabolisme ialah suatu reaksi dekomposisi (pemecahan), yang memecahkan molekul-molekul besar menjadi molekul-molekul kecil (kurnadi, 2001:8). Salah satu proses katabolisme yaitu pencernaan makanan yang berguna untuk menambah energi yang berguna bagi tubuh. Pencernaan makanan dibagi ke dalam dua jenis yaitu pencernaan intraseluler dan pencernaan ekstaseluler. Pencernaan ekstraseluler adalah perombakan makanan di luar sel (Husaman, 2013:10). Sedangkan pencernaan intraseluler adalah proses perombakan makanan yang terjadi didalam sel.
      Pada protozoa, proses pencernaannya terjadi dalam vakuola. Mula-mula, lisosom menyekresikan enzim pencrnaan ke dalam vakuola makanan. Enzim tersebut menyebabkan suasana vakuola berubah menjadi asam sehingga bahan makanan tercerna. Selanjutnya, terjadi pemisahan berbagai garam kalsium. Hal ini akan menciptakan suasana lingkungan dengan pH yang tepat bagi berbagai enzim untuk berfungsi secara optimal. Dalam keadaan seperti itu, bahan makanan akan disederhanakan sehingga dapat diserap oleh sitoplasma. Berakhirnya proses pencernaan ditandai dengan adanya perubahan keadaan lingkungandalam vakuola menjadi netral. Bahan makanan yang tidak tercerna dikeluarkan melalui proses eksositosis.
       Menurut Campbell et all (2004:4) “vakuola makanan, organel seluler dimana enzim hidrotik merombak makanan tanpa mencerna sitoplasma sel sendiri, adalah kompartemen yang paling sederhana”. Protista heterotrofik mencerna makananya dalam vakuola makanan, umumnya setelah menelan makanan melalui fasogitosis atau pinositosis. Vakuola makanan menyatu dengan lisosom yang merupakan organel yang mengandung enzim hidrolitik. Keadaan ini akan memungkinkan makanan bercampur dengan enzim sehingga pencernaan terjadi secara aman di dalam suatu kompartemen yang terbungkus oleh membrane. Mekansisme pencernaan ini disebut pencernaan instraseluler. “complex body plans also include a circulatory fluid, such as blood. Exchange between the interstitial fluid and the circulatory fluid enables cell troughout the body to obtain nutients and get rid of wastes” (Campbell, 2011:854). Dengan adanya pertukaran cairan interstitial antar sel memungkinkn masuknya nutrisi dan membuang sampah sisa metabolism, sehingga kebutuhan tubuh akan energi dapat terpenuhi.
III.             Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
·         Mikroskop
·         Gelas kimia
·         Bunsen spiritus
·         Cover glass dan objek glass
·         Termometer
·         Kawat kasa
·         Kaki tiga
·         Pemantik
·         Pipet tetes
·         Kapas
·         Spatula
Bahan yang dibutuhkan yaitu sebagai berikut :
·         Air kolam yang keruh
·         Ragi jerami
·         Air kultur murni

IV.             Cara Kerja
Cara membuat  kultur Paramecium murni :
1.      Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2.      Diambil air sawah sebnayak 1000 ml.
3.      Dimasukan air sawah tersbeut kedalam gelas kimia maisng-maisng sebanyak 500 ml.
4.      Gelas kimia A dipanaskan dengan suhu 100 c, kemudian di dinginkan dibawah suu 30 c.
5.      Gelas kimia B digunakan untuk mencari 20 Paramecium sp.
6.      Dimasukan jerami kering yang sudah dipotong kecil-kecil secukupnya  kedalam gelas kimia A , kemudian dimasukan 20 Paramecium sp.
7.      Gelas kimia yang A ditutup digunakan kain kasa dan diberi karet supaya tidak kedap udara.
8.      Disimpan air kultur ditempat yang tidak kena sinar matahari selama 6 hari.
9.      Kemudian diulangi kembali sebanyak 4 kali pengulangan sampai benar-benar mendapatkan Paramecium sp.
Cara mencari Paramecium sp :
1.      Disiapakn alat dan bahan yang akan digunakan.
2.      Diambil satu tetes air kultur murni.
3.      Disimpan air kultur di atas objek gelas.
4.      Ditambahkan larutan ragi satu tetes.
5.      Ditutup air kultur resebut dengan caver glass.
6.      Disimpan dibawah mikroskop dengan pembesaran yang diingikan.
7.      Dilihat system pencernaan pada Paramecium sp.

V.                Data Pengamatan




Gambar 1. Paramecium sp sebelum diberi ragi





Gambar 2. Paramecium sp setelah diberi ragi





 






Gambar 3. Gambar literature : Paramecium sp yang telah diberi ragi dan cairan conced.

VI.             Pembahasan
               Beradaskan hasil pengamatan, bentuk tubuh Paramecium umumnya seperti sandal atau sepatu dengan bagian depan tumbul dan meruncing di bagian belakang. Hidupnya di air tawar yang banyak mengandung bakteri atau zat zat organic. Padanya terdapat banyak silia untuk alat gerak dengan cara bergetar. Terdapat trichocyrt, mulut, rongga makanan, dan rongga berdenyut, makronukleus, mikronukleus dan sel dubur. Respirasi dan eksresi terjadi melalui permukaan tubuhnya.
               Pada protozoa, proses pencernaannya terjadi dalam vakuola. Mula-mula, lisosom menyekresikan enzim pencrnaan ke dalam vakuola makanan. Enzim tersebut menyebabkan suasana vakuola berubah menjadi asam sehingga bahan makanan tercerna. Selanjutnya, terjadi pemisahan berbagai garam kalsium. Hal ini akan menciptakan suasana lingkungan dengan pH yang tepat bagi berbagai enzim untuk berfungsi secara optimal. Dalam keadaan seperti itu, bahan makanan akan disederhanakan sehingga dapat diserap oleh sitoplasma. Berakhirnya proses pencernaan ditandai dengan adanya perubahan keadaan lingkungandalam vakuola menjadi netral. Bahan makanan yang tidak tercerna dikeluarkan melalui proses eksositosis.
Pencernaan makanan di dalam vakuola makanan terjadi pada saat vakuola makanan bergerak di dalam sitoplasma, yang disebut dengan gerakan siklosis. Enzim pencernaan yang terlibat adalah proteas, karbohidrase, dan esterase yang disekresikan oleh lisosom ke vakuola makanan. Vakuola makanan yang bergerak secara siklosis akan mengecil ukurannya secara bertahap karena proses digesti dan absorpsi.
               Pada saat praktikum, tidak dapat ditemukan dengan jelas vakuola makanan dalam Paramecium tersebut, dikarenakan keterbatasan perbesaran pada lensa objektif mikroskop yang kami pakai. Perbesaran yang digunakan hanya 10 x 15. Tetapi dapat diamati proses masuk dan  keluarnya makanan atau  proses fagositosis dan exositotis yang dilakukannya.
Namun setelah melihat literature dalam bentuk video, dapat kami ketahui tahap tahap pencernaan makanan pada Paramecium sp : yaitu  sitofaring, posterior, anterior, sitosom, sitofage, arah pergerakan makanannya searah jarum jam.

VII.          Kesimpulan
               Dari hasil praktikum dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. Paramecium sp makan dengan cara fagositosis dan mengeluarkan sisa makanan dengan exositosis. Makanan di dalam tubuh dicerna dengan vakuola makanan yang terbentuk langsung saat makanan masuk. Pencernaan makanan pada Paramecium ini disebut dengan pencernaan intraseluler. Terdapat gerakan sisklosis pada vakuola saat vakuola mencerna makanan dengan pergerakan searah jarum jam.


DAFTAR PUSTAKA

Rusyana, Adun.2018. ZOOLOGI INVERTEBRATA. Bandung : Penerbit Alfabeta.
Isnaeni, Wiwi. 2006. FISIOLOGI HEWAN. Yogyakarta : PT. KANISIUS

No comments:

Post a Comment