Hallo pembaca setiaku.. kali ini aku mau posting sebuah cerpen yang telah dibukukan. Cerpenku masuk di lima puluh cerpen terpilih untuk dibukukan pada lomba sayembara cerpen Pejuang Antologi, dan diterbitakan oleh CV. ANM Yogyakarta. Baiklah langsung CEK IT OUT !!!!!
Di Balik Kenyataan Pahit
Oleh : Yuli Sumiati
Selamat pagi, aku Tiar. Aku sedang
mengecek semua persyaratanku ini. Aku akan gagal jika ada satu saja yang tak
aku masukkan. Dan ya aku melewatkan satu hal. Sertifikat belum aku fotocopy.
Reni, kamu duluan saja ke ruang rector, aku ada yang lupa. “Memangnya kamu lupa
apa?” tanya Reni. Aku lupa belum fotocopy sertifikat. “Oh sertifikatya.. aku
gak punya sertifikat apapun, jadi aku tidak menyertakannya di dalam mapku.” Oke
baiklah ,duluan saja”.Rani menjawab,” Tidak, lebih baik kita sama sama saja ke
Rektornya.”
Kami berdua bersama-sama ke tempat
fotocopian untuk memfotocopy sertifikatku. Kupikir sertifikat ini akan membantu,
walau ya.. buka sertifikat luar biasa
sih. Ini hanya sertifikat ikut organisasi sama beberapa lomba yang juga hanya
sebagai peserta. Ini hanya pelengkap saja.. toh IPKku kan yang tertinggi di
kelas. Jadi ya.. tenang saja.
“Ti.. kayanya aku gak bakal dapet deh. Soalnya IP ku
kecil, aku juga gak punya sertifikat, selain itu, aku juga gak ikut satu
organisasipun di kampus ini. “ Kata Reni. “Eh jangan gitu, tidak ada yang tahu
kan, rezeki itu ada yang atur.” Aku memotivasi Reni supaya dia tidak mundur.
Jujur saja, sebenarnya aku juga tidak berpikir dia
akan lolos, ya itu sebabnya aku ajak dia buat ikutan daftar. Aku juga butuh dia
hanya sebagai teman saat ku daftar. Soalnya aku adalah tipe orang yang pemalu,
kalo sendiri itu, berasa seperti semua orang akan memakanku.
“Ini sudah fotocopyannya” Kata Pak doni penjaga fotocopy
itu. “Oh iya.. semuanya berapa?” aku tanya.
“3 ribu.” Baik ini uangnya terimakasih ya Pak. “ Sama sama neng” Kamu kaya
melamun dan senyum senyum sendiri tadi, ada apa? Reni bertanya. “Oh tadi, nggak
kok gak papa.” Jawabku.
“De.. mau daftar beasiswa ya? “ Iya kak. Saat itu ada kakak tingkat yang menyapaku, di
tangga waktu aku mau mendatangi ibu ketua Prodi. “Ibu Sintanya sedang keluar
dulu de” kata kakak tingkat itu. “ Iya terima kasih kak..” jawabku.
Ren, kita tunggu dulu ibu disini ya...” oh oke. Apa
aku jangan batalin aja ya? Aku gak mau ah malu. “Eh jangan gitu, kalo apa apa
jangan setengah setengah.” Nanti gak maksimal. Ayolah please jangan mundur ya…”
Aku memohon. Baiklah .
Saat ibu ketua prodi datang, aku dan reni segera
mendatanginya, ternyata ada satu persyaratan lagi yang belum ada, surat
rekomendasi dari wali kelas. Kebetulan ibu sri sedang tidak di kampus hari ini.
aku kebingungan dan sangat khawatir karena berkas harus sudah ada di tangan
rector sebelum jam 1 siang. Dan sekarang adalah jam 10.30. aku langsung
menghubungi Bu sri, katanya coba tanda tangan saja oleh ibu ketua prodi.
Akhirnya surat ibu dibuatkan dan ditanda tangani oleh ibu Sinta.
“Nah sekarang sudah semuanya, sekarang ibu yang akan
menyeleksi dulu dan nanti akan ibu serahka ke Pak rector. Semoga kalian
berhasil ya..” kata bu Sinta .” Iya bu Aamiin terima kasih” jawab kami.
“Dong dong dong…” suara Hpku. Aku buka ternyata ada
notivikasi WA, aku dimasukan di grup
mahasiswa penerima beasiswa. Ya Tuhan, aku seneng banget, ternyata aku
dapet beasiswa itu. Aku tanya ke rani, apa dia juga masuk grup, ternyata tidak.
Berarti hanya aku dari kelasku yang dapet beasiswa itu, Dari dapur ibuku
memanggilku aku langsung memberi tahu pada ibu kalo aku menang beasiswa itu.
Ibuku snagat senag dan bersyukur. Setrelah bers membantu ibu, aku tidak sabar
untuk melihat hpku kembali, siapa tahu ada info laimnya. Dan benar ada info
yang sangat mengejutkanku. Ternyata Pak doni selaku coordinator beasiswa kampus
salah memasukkan nomor ke grup itu, namanya sama denganku. Padahal Bukan Tiar
Rahmawati, tetapi Tiar angina. Betaba hancurnya hati dan pikiranku. Aku nangis
saat itu, tetapi apa lagi yang bisa ku perbuat. Yah mungkin ukan rejekiku. Dan
aku juga tidak harus terlalu kecewa. Karena dari kelasku juga tida ada yang
dapat.
“Dong dong dong.. “ ternyata ada chat dari Reni.
Kubuka chat itu. “Ti..aku ternyata masuk grup beasiswa juga loh,” Apa? Aku syok
banget. Wah beneran ? selamat ya.. “
balasku. Aku gak dapet Ren, pa doni salah masukin orang ke grup itu. Apa? Yah
kasihan banget kamu, padahal kan kamu yang pengen banget dapet beasiswa ini. “
iya gpp mungkin aku belum beruntung.
Aku merasa sangat kecewa, dan marah. Mengapa harus
dia yang dapat beasiswa itu? Padahal IPK besar aku, aku juga aktif organisasi,
aku juga punya sertifikat. Ini semuanya tak adil. Selalu begitu dalam benakku
ketika mendengar kata beasiswa dan jika bertemu dia, aku tak pernah ingin
berbicara dengannya.
Hari kehari aku merasa bahwa
sikapku ini sangat keterlaluan. Hanya karena kalah dalam bersaing untuk
mendapatkan beasiswa, aku bersikap tidak baik kepada Rani. Aku juga suka
membicarakan dia pada teman temanku ytang lainnya seolah dia tidak berhak
mendapatkan beasiswa itu. Tetapi saat aku merubah perilakuku ini, seolah ada
yang aneh dalam diri Reni. Dia selalu meminta maaf padaku jika bertemu
denganku. Dia selalu tak percaya diri saat presentasi di depan kelas. Teman
temanku pun sering membicarakannya. Akhir akhir ini dia sering tidak masuk
kelas, karena orang tuanya sakit. Aku mendengar kabar bahwa ayahnya meninggal.
Kami sekelas menjenguknya untuk mengucapkan bela sungkawa. Kami juga
mengumpulkan uang untuk membantu meringankan kebutuhan sehari hari reni dan
keluarga. Ibunya tidak bekerja, dia mempunyai tiga adik, adiknya yang tertua
adalah perempuan yang tahun ini akan masuk perguruan tinggi, adiknya yang kedua
laki laki tahun ini akan masuk SMA, dan satu lagi yang terkecil akan masuk SMP.
Rani memutuskan untuk berhenti kuliah demi mencari nafkah. Karena dialah tulang
punggung keluarga. Aku dan teman teman sempat membujuknya untuk tidak berhenti
kuliah karena sayang sekali dia pintar dan dia juga beasiswa. Tapi Rani sudah membulatkan tekadnya itu. Aku
sempat senang. Karena jika ada mahasiswa yang tidak meneruskan beasiswa
tersebut, maka akan diganti dngan mahasiswa lain yang lebih berhak. Tapi aku
juga sedih karena Rani adalah teman baikku sebelum kami daftar beasiswa
bersama.
“Tiar..” Ada yang memanggilku dari
belakang. “Iya” sambil menoleh, ternyata Ibu ketua prodi. “Iya Bu, ada apa ibu
memanggil saya?” tanyaku heran. “Ibu membawa surat dari Rektor, yang isinya,
kamu menerima beasiswa selama 2 tahun kedepan kamu kuliah disini, kamu
dibebaskan dari semua biaya saat kuliah disini. Selamat ya..” Kata Bu Sinta.
“Apa bu? Benarkah Bu?,” aku tak percaya sungguh tak percaya. Aku memang sudsah
tau aka nada pemindahan beasiswa karena Reni mengundurkan diri. Tetapi, aku
tidak mengerti mengapa beasiswanya langsung diberikan kepadaku? Biasanya selalu
ada pengumuman dan pelaksanaan test untuk memilih mahasiswa yang paling berhak
menerima beasiswa itu. “Ibu, maaf kalau boleh saya tanya, mengapa tidak
diadakan dulu seleksi untuk memilih mahasiswa yang paling berhak menerima
beasiswa ini Bu?” Tanyaku. “Oh iya, itu atas saran dan permintaan dari Reni
yang mengundurkan diri dari besiswa tersebut. Dia meminta supaya kemahasiswaan
memberikan beasiswa itu padamu. Dan setelah kami selidiki, ternyata kamu memang
berhak menerima beasiswa ini. Oleh sebab itulah Pak Rektor memberikan surat ini
padamu.” Jelas Bu Sinta. Aku sangat kaget sampai tidak bisa berkata kata. Reni
yang selama ini aku jahati, ternyata sangat baik padaku. Dia memberikan
beasiswanya padaku. Ya Tuhan, dimana harga diriku? Aku tidak lagi berpikir
bahwa aku berhak menerima beasiswa ini. aku hanya berfikir ini adalah
keberuntungan. Keberuntungan yang aku dapatkan setelah penderitaan orang lain.
Sekarang teman temanku balik mengejekku. Mereka berkata aku ini teman yang
taktahu malu, sudah menjelek-jelekkan
teman dan dia sendiri yang telah menerima kebaikkan temannya itu. Aku sangat
sedih, mungkin ini yang dirasakan Reni, saat dia menerima keberuntungan ini.
Tapi mau bagaimana lagi, aku sangat menginginkan
beasiswa ini. karena jujur saja. Orang tuaku yang hanya seorang petani, dan
peternak domba kecil kecilan, sangat berharap aku mendapatkan beasiswa.
Tujuanku untuk kuliah juga aku ingin tetap kuliah dengan tidak menyusahkan
kedua orang tuaku.
Hariku serasa berbeda. Dengan
kondisi teman temanku yang seolah tak senang melihatku. Aku teringat dengan
Rani. Aku langsung menju ke rumahnya. “ Tok Tok tok…. Asalamualaiku..” ku ketuk
pintu dan mengucapkan salam. Ternyata tidak ada yang menjawab.” Trak..”
terdengar suara barang yang pecah. Aku langsung masuk saja karena pintunya
tidak dikunci. Setelah kulihat di kamar ada ibunya Rani. “Ibu tidak apa apa
bu?” ternyata ibunya Rani mau mengambil gelasnya tetapi kejauhan, dan akhirnya
gelas yang berisi air itu jatuh. “ Mengapa ibu sendirian, mana Rani?” Tanyaku.
Rani sedang kerja Neng, adik adiknya belum pulang sekolah. Kamu teman kuliahnya
dulu ya?” Kata ibunya Rani. “Iya bu.. Oh begitu ya bu.. Rani kapan pulangnya
bu?”Tanyaku. “Rani nanti sesudah magrib baru pulang.” Jawab ibunya Rani.
Ya Tuhan, kasihan sekali Rani. Dia harus bekerja
untuk menghidupi ibu dan adik adiknya. Ditambah lagi sekarang ibunya sakit.
Pasti ada tambahan biaya untuk berobat ibunya. Dulu aku hanya menjelek jelekkan
dia, Ternyata dia yang lebih berhak mendapatkan beasiswa itu sekarang. Tetapi
sekarang aku tidak boleh diam saja. Aku harus membantu Rani.Bagaimanapun
caranya. Saat itu aku pamit pada Ibunya Rani untuk pulang.
Sekarang adalah bulan mei, pasti
uangnya sudah cair. Aku pikir aku akan mengambil setengahnya untuk membantu
Rani. Sepulang dari ATM, aku langsung menuju rumahnya Rani. Di perjalanan aku
melihat Rani sedang membagikan makanan di sebuat warung makan sederhana.
Pikirku, mengapa Rani bekerja disana? Pasti gajinya kecil, bagaimana dia bisa
membantu keuangan keluarganya. Tak lama kemudian angkot yang membawaku ke rumah
Rani berhenti, ternyata amngkotnya mogok. Untunglah jaraknya sedikit lagi.
Akupun terpaksa jalan kaki. “Tiar!.. Tiar!..” ada yang memanggilku, saat aku
menoleh ternyatra Rani. “Loh Rani mengapa kamu disini?” tanyaku. “ Justru
seharusnya aku yang tanya, sedang apa kamu disini?” Rani membalik tanya. “Aku
mau ke rumahmu.”jawabku. “Terus kamu mengapa disini? Kamu sudah mau pulang ya?
Kan ka,u lagi kerja?” tanyaku. “ Iya aku sengaja pulang lebih awal karena
khawatir dengan ibu.” Jawab Rani. Yuk sama sama..
Kulihat tadi dia berjalan kaki, apakah
dia jalan kaki setiap hari? Kasihan sekali dia. Sesampainya di rumah Rani, aku
langsung menemui ibunya dan memberikan uangku yang baru saja aku cairkan tadi.
Rani dan ibunya sangat berterima kasih padaku. Sepertinya ada perasaan aneh
dalam diriku. Belum pernah aku merasakan bahagia seperti ini. Mungkin karena
aku telah membantu orang lain dan ternyata membantu orang yang sangat membutuhkan
itu, bukan kerugian yang kita dapatkan tetapi kebahagiaan. Terima kasih Tuhan,
kau sudah memberi rejeki padaku yang sangat berguna untuk temanku ini.
No comments:
Post a Comment