Tuesday, May 19, 2020

Contoh Cerpen


Hallo pembaca setiaku.. kali ini aku mau posting sebuah cerpen yang telah dibukukan. Cerpenku masuk di lima puluh cerpen terpilih untuk dibukukan pada lomba sayembara cerpen Pejuang Antologi, dan diterbitakan oleh CV. ANM Yogyakarta. Baiklah langsung CEK IT OUT !!!!!

Di Balik Kenyataan Pahit
Oleh : Yuli Sumiati


Selamat pagi, aku Tiar. Aku sedang mengecek semua persyaratanku ini. Aku akan gagal jika ada satu saja yang tak aku masukkan. Dan ya aku melewatkan satu hal. Sertifikat belum aku fotocopy. Reni, kamu duluan saja ke ruang rector, aku ada yang lupa. “Memangnya kamu lupa apa?” tanya Reni. Aku lupa belum fotocopy sertifikat. “Oh sertifikatya.. aku gak punya sertifikat apapun, jadi aku tidak menyertakannya di dalam mapku.” Oke baiklah ,duluan saja”.Rani menjawab,” Tidak, lebih baik kita sama sama saja ke Rektornya.”

Kami berdua bersama-sama ke tempat fotocopian untuk memfotocopy sertifikatku. Kupikir sertifikat ini akan membantu, walau ya.. buka  sertifikat luar biasa sih. Ini hanya sertifikat ikut organisasi sama beberapa lomba yang juga hanya sebagai peserta. Ini hanya pelengkap saja.. toh IPKku kan yang tertinggi di kelas. Jadi ya.. tenang saja.

“Ti.. kayanya aku gak bakal dapet deh. Soalnya IP ku kecil, aku juga gak punya sertifikat, selain itu, aku juga gak ikut satu organisasipun di kampus ini. “ Kata Reni. “Eh jangan gitu, tidak ada yang tahu kan, rezeki itu ada yang atur.” Aku memotivasi Reni supaya dia tidak mundur.

Jujur saja, sebenarnya aku juga tidak berpikir dia akan lolos, ya itu sebabnya aku ajak dia buat ikutan daftar. Aku juga butuh dia hanya sebagai teman saat ku daftar. Soalnya aku adalah tipe orang yang pemalu, kalo sendiri itu, berasa seperti semua orang akan memakanku.

“Ini sudah fotocopyannya” Kata Pak doni penjaga fotocopy itu.  “Oh iya.. semuanya berapa?” aku tanya. “3 ribu.” Baik ini uangnya terimakasih ya Pak. “ Sama sama neng” Kamu kaya melamun dan senyum senyum sendiri tadi, ada apa? Reni bertanya. “Oh tadi, nggak kok gak papa.” Jawabku.

“De.. mau daftar beasiswa ya? “ Iya kak. Saat  itu ada kakak tingkat yang menyapaku, di tangga waktu aku mau mendatangi ibu ketua Prodi. “Ibu Sintanya sedang keluar dulu de” kata kakak tingkat itu. “ Iya terima kasih kak..” jawabku.

Ren, kita tunggu dulu ibu disini ya...” oh oke. Apa aku jangan batalin aja ya? Aku gak mau ah malu. “Eh jangan gitu, kalo apa apa jangan setengah setengah.” Nanti gak maksimal. Ayolah please jangan mundur ya…” Aku memohon. Baiklah .

Saat ibu ketua prodi datang, aku dan reni segera mendatanginya, ternyata ada satu persyaratan lagi yang belum ada, surat rekomendasi dari wali kelas. Kebetulan ibu sri sedang tidak di kampus hari ini. aku kebingungan dan sangat khawatir karena berkas harus sudah ada di tangan rector sebelum jam 1 siang. Dan sekarang adalah jam 10.30. aku langsung menghubungi Bu sri, katanya coba tanda tangan saja oleh ibu ketua prodi. Akhirnya surat ibu dibuatkan dan ditanda tangani oleh ibu Sinta.

“Nah sekarang sudah semuanya, sekarang ibu yang akan menyeleksi dulu dan nanti akan ibu serahka ke Pak rector. Semoga kalian berhasil ya..” kata bu Sinta .” Iya bu Aamiin terima kasih” jawab kami.

“Dong dong dong…” suara Hpku. Aku buka ternyata ada notivikasi WA, aku dimasukan di grup  mahasiswa penerima beasiswa. Ya Tuhan, aku seneng banget, ternyata aku dapet beasiswa itu. Aku tanya ke rani, apa dia juga masuk grup, ternyata tidak. Berarti hanya aku dari kelasku yang dapet beasiswa itu, Dari dapur ibuku memanggilku aku langsung memberi tahu pada ibu kalo aku menang beasiswa itu. Ibuku snagat senag dan bersyukur. Setrelah bers membantu ibu, aku tidak sabar untuk melihat hpku kembali, siapa tahu ada info laimnya. Dan benar ada info yang sangat mengejutkanku. Ternyata Pak doni selaku coordinator beasiswa kampus salah memasukkan nomor ke grup itu, namanya sama denganku. Padahal Bukan Tiar Rahmawati, tetapi Tiar angina. Betaba hancurnya hati dan pikiranku. Aku nangis saat itu, tetapi apa lagi yang bisa ku perbuat. Yah mungkin ukan rejekiku. Dan aku juga tidak harus terlalu kecewa. Karena dari kelasku juga tida ada yang dapat.

“Dong dong dong.. “ ternyata ada chat dari Reni. Kubuka chat itu. “Ti..aku ternyata masuk grup beasiswa juga loh,” Apa? Aku syok banget.  Wah beneran ? selamat ya.. “ balasku. Aku gak dapet Ren, pa doni salah masukin orang ke grup itu. Apa? Yah kasihan banget kamu, padahal kan kamu yang pengen banget dapet beasiswa ini. “ iya gpp mungkin aku belum beruntung.

Aku merasa sangat kecewa, dan marah. Mengapa harus dia yang dapat beasiswa itu? Padahal IPK besar aku, aku juga aktif organisasi, aku juga punya sertifikat. Ini semuanya tak adil. Selalu begitu dalam benakku ketika mendengar kata beasiswa dan jika bertemu dia, aku tak pernah ingin berbicara dengannya.

Hari kehari aku merasa bahwa sikapku ini sangat keterlaluan. Hanya karena kalah dalam bersaing untuk mendapatkan beasiswa, aku bersikap tidak baik kepada Rani. Aku juga suka membicarakan dia pada teman temanku ytang lainnya seolah dia tidak berhak mendapatkan beasiswa itu. Tetapi saat aku merubah perilakuku ini, seolah ada yang aneh dalam diri Reni. Dia selalu meminta maaf padaku jika bertemu denganku. Dia selalu tak percaya diri saat presentasi di depan kelas. Teman temanku pun sering membicarakannya. Akhir akhir ini dia sering tidak masuk kelas, karena orang tuanya sakit. Aku mendengar kabar bahwa ayahnya meninggal. Kami sekelas menjenguknya untuk mengucapkan bela sungkawa. Kami juga mengumpulkan uang untuk membantu meringankan kebutuhan sehari hari reni dan keluarga. Ibunya tidak bekerja, dia mempunyai tiga adik, adiknya yang tertua adalah perempuan yang tahun ini akan masuk perguruan tinggi, adiknya yang kedua laki laki tahun ini akan masuk SMA, dan satu lagi yang terkecil akan masuk SMP. Rani memutuskan untuk berhenti kuliah demi mencari nafkah. Karena dialah tulang punggung keluarga. Aku dan teman teman sempat membujuknya untuk tidak berhenti kuliah karena sayang sekali dia pintar dan dia juga beasiswa.  Tapi Rani sudah membulatkan tekadnya itu. Aku sempat senang. Karena jika ada mahasiswa yang tidak meneruskan beasiswa tersebut, maka akan diganti dngan mahasiswa lain yang lebih berhak. Tapi aku juga sedih karena Rani adalah teman baikku sebelum kami daftar beasiswa bersama.

“Tiar..” Ada yang memanggilku dari belakang. “Iya” sambil menoleh, ternyata Ibu ketua prodi. “Iya Bu, ada apa ibu memanggil saya?” tanyaku heran. “Ibu membawa surat dari Rektor, yang isinya, kamu menerima beasiswa selama 2 tahun kedepan kamu kuliah disini, kamu dibebaskan dari semua biaya saat kuliah disini. Selamat ya..” Kata Bu Sinta. “Apa bu? Benarkah Bu?,” aku tak percaya sungguh tak percaya. Aku memang sudsah tau aka nada pemindahan beasiswa karena Reni mengundurkan diri. Tetapi, aku tidak mengerti mengapa beasiswanya langsung diberikan kepadaku? Biasanya selalu ada pengumuman dan pelaksanaan test untuk memilih mahasiswa yang paling berhak menerima beasiswa itu. “Ibu, maaf kalau boleh saya tanya, mengapa tidak diadakan dulu seleksi untuk memilih mahasiswa yang paling berhak menerima beasiswa ini Bu?” Tanyaku. “Oh iya, itu atas saran dan permintaan dari Reni yang mengundurkan diri dari besiswa tersebut. Dia meminta supaya kemahasiswaan memberikan beasiswa itu padamu. Dan setelah kami selidiki, ternyata kamu memang berhak menerima beasiswa ini. Oleh sebab itulah Pak Rektor memberikan surat ini padamu.” Jelas Bu Sinta. Aku sangat kaget sampai tidak bisa berkata kata. Reni yang selama ini aku jahati, ternyata sangat baik padaku. Dia memberikan beasiswanya padaku. Ya Tuhan, dimana harga diriku? Aku tidak lagi berpikir bahwa aku berhak menerima beasiswa ini. aku hanya berfikir ini adalah keberuntungan. Keberuntungan yang aku dapatkan setelah penderitaan orang lain. Sekarang teman temanku balik mengejekku. Mereka berkata aku ini teman yang taktahu malu, sudah menjelek-jelekkan teman dan dia sendiri yang telah menerima kebaikkan temannya itu. Aku sangat sedih, mungkin ini yang dirasakan Reni, saat dia menerima keberuntungan ini.

Tapi mau bagaimana lagi, aku sangat menginginkan beasiswa ini. karena jujur saja. Orang tuaku yang hanya seorang petani, dan peternak domba kecil kecilan, sangat berharap aku mendapatkan beasiswa. Tujuanku untuk kuliah juga aku ingin tetap kuliah dengan tidak menyusahkan kedua orang tuaku.

Hariku serasa berbeda. Dengan kondisi teman temanku yang seolah tak senang melihatku. Aku teringat dengan Rani. Aku langsung menju ke rumahnya. “ Tok Tok tok…. Asalamualaiku..” ku ketuk pintu dan mengucapkan salam. Ternyata tidak ada yang menjawab.” Trak..” terdengar suara barang yang pecah. Aku langsung masuk saja karena pintunya tidak dikunci. Setelah kulihat di kamar ada ibunya Rani. “Ibu tidak apa apa bu?” ternyata ibunya Rani mau mengambil gelasnya tetapi kejauhan, dan akhirnya gelas yang berisi air itu jatuh. “ Mengapa ibu sendirian, mana Rani?” Tanyaku. Rani sedang kerja Neng, adik adiknya belum pulang sekolah. Kamu teman kuliahnya dulu ya?” Kata ibunya Rani. “Iya bu.. Oh begitu ya bu.. Rani kapan pulangnya bu?”Tanyaku. “Rani nanti sesudah magrib baru pulang.” Jawab ibunya Rani.

Ya Tuhan, kasihan sekali Rani. Dia harus bekerja untuk menghidupi ibu dan adik adiknya. Ditambah lagi sekarang ibunya sakit. Pasti ada tambahan biaya untuk berobat ibunya. Dulu aku hanya menjelek jelekkan dia, Ternyata dia yang lebih berhak mendapatkan beasiswa itu sekarang. Tetapi sekarang aku tidak boleh diam saja. Aku harus membantu Rani.Bagaimanapun caranya. Saat itu aku pamit pada Ibunya Rani untuk pulang.

Sekarang adalah bulan mei, pasti uangnya sudah cair. Aku pikir aku akan mengambil setengahnya untuk membantu Rani. Sepulang dari ATM, aku langsung menuju rumahnya Rani. Di perjalanan aku melihat Rani sedang membagikan makanan di sebuat warung makan sederhana. Pikirku, mengapa Rani bekerja disana? Pasti gajinya kecil, bagaimana dia bisa membantu keuangan keluarganya. Tak lama kemudian angkot yang membawaku ke rumah Rani berhenti, ternyata amngkotnya mogok. Untunglah jaraknya sedikit lagi. Akupun terpaksa jalan kaki. “Tiar!.. Tiar!..” ada yang memanggilku, saat aku menoleh ternyatra Rani. “Loh Rani mengapa kamu disini?” tanyaku. “ Justru seharusnya aku yang tanya, sedang apa kamu disini?” Rani membalik tanya. “Aku mau ke rumahmu.”jawabku. “Terus kamu mengapa disini? Kamu sudah mau pulang ya? Kan ka,u lagi kerja?” tanyaku. “ Iya aku sengaja pulang lebih awal karena khawatir dengan ibu.” Jawab Rani. Yuk sama sama..

Kulihat tadi dia berjalan kaki, apakah dia jalan kaki setiap hari? Kasihan sekali dia. Sesampainya di rumah Rani, aku langsung menemui ibunya dan memberikan uangku yang baru saja aku cairkan tadi. Rani dan ibunya sangat berterima kasih padaku. Sepertinya ada perasaan aneh dalam diriku. Belum pernah aku merasakan bahagia seperti ini. Mungkin karena aku telah membantu orang lain dan ternyata membantu orang yang sangat membutuhkan itu, bukan kerugian yang kita dapatkan tetapi kebahagiaan. Terima kasih Tuhan, kau sudah memberi rejeki padaku yang sangat berguna untuk temanku ini.

No comments:

Post a Comment