Assalamualaikum.... hallo pembaca setiaku.. kali ini aku mau ngepost cerpen lagi. Ada sesuatu di balik penulisan cerpen ini. Hehe, tapi ceritanya justru sebaliknya.
Bagi kalian yang punya inisiatif buat novel kehidupan romansa dosen dan mahasiswa, semoga ini bias dijadikan reverensi ya.. hehe.. Okay langsung aja CEK IT OUT!!!!!!!
Kekeliruan Cinta Pertama
By Yutaz292
Hai my name is Raya. Setiap hari hanya buku, pensil,
hp, dan laptop yang menemaniku. Mahasiswi pendidikan biologi yang sangat tidak
aku sukai sewaktu SMA, di suatu kampus yang telah berubah tingkatannya dari
Sekolah Tinggi menjadi Institute. Hari demi hari aku jalani dengan berusaha
menyenangi prodi ini.
“Tuk tuk tuk…. Assalamualaikum…” dengan nafas terengah-engah karena takut
dimarahi dosen. Hari ini adalah hari kuliah pertamaku.
“Waalaikum salam.. silahkan masuk” seorang lelaki
yang tidak terlalu tua mempersilahkanku masuk.
Aku langsung masuk dan duduk di kursi paling
belakang. Lelaki itu memiliki wajah tampan, seperti ada sedikit wajah oriental
dan juga tinggi. Mataku seolah kagum karena dosennya ternyata menarik. Ternyata
dosen itu mengampu mata kuliah Kimia dan Fisika. Bertambahlah rasa sukaku
dengan dosen itu. Dari delapan mata kuliah, hanya matkul Kimia dan Fisikalah
yang aku sukai. Bakan aku merasa bahwa aku ini bukan mahasiswa biologi.
“Raiya Azolla..?” dosen itu mengabsenku.
“Saya Pak.” Sambil mengangkat tangan.
“Asalnya dari
mana?” Dosen itu menanyakan tempat tinggalnya.
“Perbatasan Garut Tasik Pak..” sambil merasa bingung
aku mengatakannya, soalnya tempat itu lebih familiar dari pada alamatku
sebenarnya. Sambil tersenyum dosen itu
berkata…” Oh berarti bisa pulang bareng saya ya..”. Cie…cie…. Semua mahasiswa
gaduh. Aku pun senyum.hehe
Esok harinya saat matkul Kimia untuk biologi, Dosen
tersebut masuk kelas, “Asssalamualaikum…” melangkah dengan kaki panjangnya dan
matanya yang sangat kalem. Membuat diriku yang sedang baca buku , kerasak
kerusuk menutup buku dan menjawab salam dosen itu, bersama dengan mahasiswa
lainnya.
“Ada yang mau
ngambilin air? Raiya aja ya…” Mana Raiya?” Dosen tersebut memintaku untuk
menyambilkan air.
“Saya Pak”
aku langsung keluar dan mengambilkan air minum.
Saat dikoridor, aku bertemu dengan dosen itu yang
akan kembali ke ruangan dosen sebentar. “Bisa kan? Massa ga bisa…” Dosen itu dan
aku tersenyum.
Saat pelajaran berlangsung, aku selalu disuruh untuk
mengerjakan soal yang diberikan di papan tulis. Itulah yang membuatku senang.
Aku dihargai di kelas ini. Seperti biasa aku selalu benar dalam menjawab
pertanyaan itu.
Tibalah saatnya pulang. Pukul 16.00 semua matkul
telah selesai aku ikuti. Aku berjalan kaki sendiri keluar kampus.
“Raiya…”
Terdengar suara laki-laki menganggil.
Dengan kebingungan aku menengok ke belakang . Ternyata….
“Ayo bareng saya saja.” katanya. Dosen kimia itu ternyata.
Karena tidak ingin kecapean, Akupun ikut.
“Kamu kemana pulanngnya? Ke salawu ya?”tanyanya.
“Iya Pak.” Jawabku.
Dimobil kami berbincang bincang tentang pelajaran Kimia.
Tak lama kemudian, mobil berhentii depan
rumahku, aku pun berpamitan pada dosen
itu dan mencium tangannya. Dosen itu tersenyum manis padaku.
Hari demi hari ternyata tidak banyak berubah. Mataku
mencari dosen itu. Pasti yang pertama kali dilihat adalah mobil kijang putihnya,
jika tidak ada mungkin hariku tidak seindah jika ada.
“Raiya” suara itu terdengar tak asing. Ternyata Nova
yang memanggilku.
“Eh denger denger kamu kemarin pulang sama Pak Ardi
ya ?” tany Nova.
“Loh darimana kamu tahu?” tanyaku heran.
“Tadi Rini yang kasih tau aku.” Jawabnya.
“Oh Rini ? iya memangnya kenapa?” Tanyaku.
“Eh kok kamu mau maunya sih diajak pulang bareng
sama pak itu?” Tanya Nova heran.
“Ya … emangnya kenapa ? ada yang salah?lagi pula kan
lumayan aku ga perlu keluar ongkos. Hehe.” Jawab ku.
“Iya.. tapi
kann orang-orang bilang kalo Pak Ardi tuh orangnya genit tau suka gitu sama
mahasiswi” kata Nova.
“Ah masa sih
? perasaan waktu di mobil juga ga ada yang aneh kok. Biasa aja ngobrol juga
biasa aja.” Tapi dalam pikiranku aku tersenyum. Cuma.. ya sedikit sih yang
membuatku kami ketawa waktu itu. Pak Ardi itu memiliki tingkat kepedean yang
cukup tinggi. Di usianya yg sudah punya
anak dua, dia masih ingin di sebut ganteng sama mahasiswi. Ku ingat ucapannya
waktu itu, saat kami membicarakan umurnya.
“Tapi saya masih mudakan kelihatannya?” entah kenapa
aku sering senyum senyum sendiri kalo inget saat itu.
“ Raiya..!
Raiya.!” Tanpa sadar aku senyum-senyum sediri saat ngobrol sama Nova.
“Ari kamu kenapa?” Nova tanya aku.
“Eh iya apa? Gak papa kok. Hehe..” jawabku.
“Atau ada hubungannya sama pak Ardi ya?” perkiraan
Nova.
“Eh apaan
ngga ngga.” Jawabku.
“Atau jangan-jangan kamu suka lagi sama Pak Ardi?”tanya
dia.
“ Hah? Gak mungkin.” Saat itu sepertinya Nova
kebingungan melihat ekspresi mukaku. Waduh bahaya ini.
“Inget kamu ya.. Pak Ardi itu udah punya istri.”
Keningku berkerut. “Iya memang dia udah punya istri
dan dua anak.”
“Iya makannya itu, kamu jangan punya pikiran anehya.”Nova melarang.
“Emang
pikiran apa ? ah sudahlah kamu justru yang pikirannya kemana mana”. Aku
berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ku kira memang mungkin ada yang salah dengan diriku
ini. Entah kenapa saat melihat dia, suasana hatiku yang tadinya buruk, berubah
180 derajat. Apalagi kalo ada yang ngatain dia. Hampir kata semua mahasiswa,
Pak Ardi itu orangnya Pelit banget sama nilai, udah gitu, orangnya genitan,
suka aneh sama mahasiswi. Tapi kurasa itu bagaimana sikap kita masing masing saja.
Karena setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda-beda terhadap seseorang.
Justru aku merasa jauh lebih tau dari mereka tentang
bagaimana Pak Ardi, dari obrolan kita waktu aku nebeng pulang waktu itu.
Kadang aku sering kasihan sama Pak Ardi. Selama
seminggu, dia harus jauh jadi keluarganya. Dan hanya pulang saat Sabtu Minggu
saja. Aku juga sering melihat status Whatsappnya yang sangat menunjukkan bahwa
dia rindu sekali dengan keluarganya.
Waktu itu bulan Ramadhan, kampus kami tetap saja
mengadakan KBM . Pagi itu mata kuliah praktikum Biokimia.
“Adek adek, karena Pak Ardi sedang sakit, jadi
beliau akan masuk terlambat.” Kata kak Widya yang menjadi Asdos mata kuliah
Biokimia saat itu.
Setelah setengah jam kemudian, Pak Ardi masuk lab.
Kasihan sekali, ternyata dia sakit perut gara-gara makan makanan yang sudah
basi saat sahur tadi pagi. Entah mengapa aku sangat kasihan sama Pak Ardi. Jika
saja ada istrinya mungkin Pak Ardi gak akan sakit perut. Hari itu pun dia
terlihat lemas.
“Apa bapak baik baik saja ? atau mungkin ingin saya
belikan obat?” Tanyaku pada Pak Ardi.
“Ah tidak usah, Bapak tidak apa apa. Terima kasih
perhatiannya ya Raiya.” mungkin sakitnya tidak terlalu parah. Itu sebabnya Pak
ardi menolak untuk diberikan obat. Kami berdua barenngan keluar Lab. Aku
berpamitan. “Saya duluan ya Pak” anehnya setiap kali berpamitan, kurasa
genggaman tangannya lebih erat. Dan saat kupandang wajahnya. Selalu dia
tersenyum. Pikirku, ah mungkin ke semua mahasiswapun begini. Ternyata tidak,
saat kusampaikan kejadian ini pada teman temanku.
Aku menuju Masjid kampus, dan Pak Ardi menuju ruang
dosen.
Hari hariku berubah setelah ku mengenal Pak Ardi.
Rasanya ingin terus belajar mata kuliahnya. Mulai aku merasa ada yang aneh pada
diriku sampai aku menyadari bahwa aku menyukai Pak Ardi yang usiannya beda 18
tahun dengan aku.
Tadi malam aku memimpikan Pak Ardi. Dan ini bukan
kali pertama aku memimpikannya. Bisa dibilang setiap hari yang ada di mimpiku
hanyalah Pak Ardi.
Tidak lama kemudian, ada pesan WA.ternyata pesannya
dari Pak Ardi. Betapa terkejutnya aku tadi malam.
“Apa kamu baik baik saja? Tadi saya memimpikan hal
buruk tentang kamu Raiya.”
“Mmm.. Saya tidak apa apa kok Pak.” Aku jawab pendek
saja. Tadinya aku juga mau bilang tentang aku mipiin dia, tapi ah sudahlah
takut melebar kesana sini.
Satu semester berlalu, banyak sekali yang
menganggapku inilah itulah, karena mereka lihat aku terlalu dekat dengan dosen
Kimia itu. Banyak juga yang iri padaku, karena nilai kimiaku lebih besar
daripada mereka. Mereka mengira nilai ku besar karena kedekatanku dengan Pak
Ardi. Ya Alloh mengapa mereka berpikiran
seperti itu, padahal aku mendapatkan nilai terbesar karena kerja kerasku
belajar selama ini. Tapi jika diamati lebih jauh, iya juga sih. Sikap Pak Ardi
padaku berbeda dengan sikapnya pada mahasiswa lainnya.
Aku sempat punya pikiran bodoh. Mungkinkah Pak Ardi
suka padaku? Jika memang benar, aku juga suka padanya. Tapi ini tidak mungkin.
Pak Ardi sudah punya istri dan dua
anak. Aku juga merasa aneh dengan
perasaanku ini. Mungkin karena sejak SMA dulu aku belum pernah berpacaran, dan
belum pernah juga diperlakukan dengan penuh perhatian oleh teman laki laki
ku. Dan mungkin juga ini adalah cinta
pertamaku. Ya.. cinta pertama pada oramg yang salah. Sebenarnya aku ingin
bercerita tentang perasaanku ini pada temanku, tapi aku orangnya cenderung
tertutup. Temen temen juga kalo ketemu sama aku. Bilangnya pasti. “Senyum dong
Raiya….” .” Ya ampuun, emang aku gak pernah senyum gitu ?” kukatakan pada
mereka. Mereka bilang aku sedikit jutek orangnya. Jadi kadang kalo aku
bercandapun, mereka nganggap serius. Kata mereka aku orangnya terlalu serius.
Akhirnya aku simpan sendiri perasaan ini dalam hati
yang teramat dalam.
“Raiya.. tolong buatkan 100 ml larutan asam sulfat
0,01 M.” Pak Ardi memintaku membantunnya. Karena kak Widya juga sedang sibuk
menyiapkan larutan lain untuk bahan praktikum kami.
“Coba dengan menggunakan rumus yang diajarkan
kemarin,
Awalnya aku ragu, aku bisa tidak ya.. tapi lama
kelamaan ternyata aku berhasil membuat larutan pertamaku. Pak ardi tersenyum
melihatku. “Tuh kamu bisa.”
“Iya Pak Alhamdulillah.” Ku bilang.
Mata kuliah praktikum Biokimia pun sudah beres.
Semua anak sudah pada pulang. Dan seperti biasa aku pasti keluar terakhir
karena sibuk membereskan buku bukuku.
“Raiya.. mau ikut bareng bapak lagi?” kata Pak Ardi
sambil membereskan buku bukunya.
Kebetulan disana ada Kak Widya yang sedang
membereskan alat alat labolatorium. Sepertinya Kak Widya merasa aneh sekali
mendegar ajakan Pak Ardi kepadaku.
Aku bilang “Tidak usah Pak.” Tapi Pak Ardi terus
memaksa. Ya sudah apa boleh buat, karena mengingat jarak rumah dan kampus jauh
sekali, kan ongkos ku selamat. Pikirku dalam hati.
Akupun pulang dengan Pak Ardi. Dan di perjalanan Pak
Ardi mengajakku untuk makan bersama di sebuah restoran. Yaa.. perutku memang
lapar. Aku pun mengiyakan ajakan Pak Ardi.
Ada yang aneh dengan meja makan. Ternyata Pak Ardi
sudah memesan makanan dan meja makan kami, sebelum kami sampai di restoran itu.
“Ayo duduk dan silahkan dimakan makanannya ya” kata
Pak Ardi.
“Eu… iya Pak.” Kata ku dengan wajah sedikit serba
salah.
Kepiting asam manis. Dalam hatiku aku berkata, Ya
Alloh aku belum pernah nyobain makanan seperti ini di restolan pula. Wah aku
sangat bersyukur. Tanpa basa basi aku langsung saja makan dan karena kan sudah
kubilang, aku lapar benget.Hahaha..
Selesai makan, kami langsung pulang. Selama di jalan
pak ardi tidak banyak bicara, beda jauh dengan waktu pulang bareng minggu lalu.
Sekarang adalah jam 8.00 pm. Seperti biasa aku
selalu menuliskan segala hal yang terjadi pada buku harianku. Mungkin jika ada
yang baca buku harian ini, mereka akan bingung dan menganggap aku gila. Seorang
mahasiswi yang suka pada dosennya yang sudah menikah dan punya dua anak. Biarlah
mereka mau ngomong apa juga. Yang penting buku harian ini jangan sampai ada
yang baca.
Aktivitas harianku seperti biasa berangkat ngampus
lagi. Tapi ada yang tak beres.
“Mengapa hari ini pak Ardi tidak masuk ya?” tanya ku
pada Nova.
“Aku kurang tahu, tapi ada yang bilang kalo pak Ardi
sakit.” Jawab Nova.
“Sakit? Innalillahi …” Aku sangat terkejut saat itu.
Tapi mobilnya ada di wisma, berarti Pak Ardi gak pulang ke Tasik. Terus siapa
yang ngurus dia?
Selama pelajaran berlangsung, aku kurang focus.
Bahkan bisa dikatakan aku hanya bengong saja. Biasanya aku paling aktif di
kelas.
Serba salah sekali aku, bagaimana ini? Mau jenguk,
takut gak sopan, sendiri pula. Mau sama temen, aku malu mau bilangnya..
Setelah beres mata kuliah, Si Yana ketua kelas kita,
ngasih tahu, kalo kelas kami sama kelas 2B akan menjenguk Pak Ardi. Aku pun
sontak bersemangat banget waktu itu.
“Assalamualaikum….” Kata Yana.
“Waalaikumslam..” terdengar suara wanita dan saat
membuka pintu memang benar wanita.
Aku heran siapa wanita itu, apakah dosen? Tapi aku
belum pernah melihatnya di kampus.
Ternyata dia istri Pak Ardi yang baru sampai dari
Tasik.
“Silahkan masuk” katanya.
“Mau menjenguk Pak Ardi ya?” katanya lagi.
“Iya Bu..” jawab kami semua.
Wanita itu menjelaskan kenapa Pak Ardi bisa sakit.
Aku hanya melihat pak Ardi, dia sedang tertidur.
Sepertinya sangat kelelahan.
Tidak lama kemudian kami berpamitan untuk pulang.
“Terima kasih sudah menjenguk ya…” kata wanita tadi.
“Iya Bu.. sama sama.. Asalamualaikum..” kata kami serempak.
“Waalaikumsalam..” jawab wanita itu.
Sampai di rumah, aku berniat menuliskan semua
peristiwa hari ini. aku sangat terkejut karena buku harianku tidak kutemukan di
tas ku. Sudah kucari kemana mana tapi tetap tak ada. Bagaimana ini, bagaimana
kalau ada yang baca buku harianku.
Besoknya aku tanya tanya sama temanku, tapi tetap
tidak ada yang menemukan buku harianku.
Aku hanya bisa berdoa supaya buku itu tidak ada yang
menemukan. Dan kalo pun ada semoga saja dia tidak membacanya.
“Raiya… Raiya.. ?” Ada yang memanggilku.
“Ia ada apa?” ternyata Nova.
“Itu istri nya Pak Ardi nyariin kamu.” Kata Nova.
“Hah isrtinya? Emang ada apa ya?” aku kaget banget.
“ Mana aku tahu, kataanya dia nunggu kamu ditaman
belakang kampus.” Kata Nova.
“ Oke makasih ya..” kataku.
Dengan jantung yang deg degan, aku menuju taman di
belakang kampus.
“Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam.. Raiya ya?” tanya wanita itu.
“ Iya Bu.. maaf, ada apa ya Bu?” Tanya ku.
“ Ini.. Ibu mau mengembalikan buku harian kamu. Ini
punya kamu kan? “ Dia bertanya.
“iya Bu ini punya saya, kemarin saya cari dimana
mana gak ada. Ternyata ada di Ibu ya? Kenapa ada sama ibu ya?” Aku heran dan
sangat deg degan, takut dia udah baca isi buku harianku.
“Buku ini ibu temukan di lantai, mungkin terjatuh
saat kamu pulang setelah menjenguk Pak Ardi.”
“Oh begitu ya..terimakasih ya bu..” kataku bingung
mau ngomong apa lagi.
“ Maafya.. bukannya saya lancang membaca buku harian
kamu, tetapi saat ditemukan, buku itu dalam posisi terbuka. Saya heran kenapa
ada tulisan Pak Ardi. Tanpa disengaja, saya ternyata membaca semua ini buku
ini.” Jelas ibu itu.
“Astagfirulloh Ibu.. maafkan saya.. saya sudah lancang.
Kalau ibu sudah membaca semuanya, berarti ibu tau apa saja yang terjadi antara
saya dengan Pak Ardi. Ibu maafkan saya Bu..” kataku dengan wajah sangat malu.
“Tidak apa apa Raiya..itu sangat wajar, melihat
sikap suamiku pada mu selama ini. Aku sudah tahu semua tentangmu dari suamiku,
karena dia selalu membicarakan mu, kalau pulang ke rumah.
“Sebenarnya dia bersikap seperti itu karena dia
ingat kepada adiknya, yang kebetulan namanya, umurnya, dan wajahnya yang cantik
mirip seperti kamu.” Katanya dengan wajah yang sendu.
“Begitu rupanya Bu.. memangnya ada apa dengan adiknya?
Apa karena jarang pulang, jadi Pak Ardi sangat rindu dengan adiknya?” tanya ku
keheranan dengan wajahku yang sangat susah berekspresi karena terkejut.
“Adiknya itu sudah meninggal dua tahun yang
lalu.”Jawabnya.
“Innalillahi wainna ilaihi rojiun….” Kataku dengan
mata berkaca kaca.
“ Ya Alloh Ibu maafkan saya karena sudah
mengingatkan ibu pada almarhun,” kataku.
“Tidak apa apa. Dan waktu kamu makan bareng sama
suami saya, sebenarnya itu adalah hari ulang tahun adiknya.” Jelasnya.
“Oh begitu iya bu tidak apa apa. Saya mengerti
sekarang. Mulai saat ini saya tidak akan berfikiran aneh lagi terhadap Pak
Ardi.” Jelasku.
“Terima kasih ya Raiya.. dengan adanya kamu, suami
saya jadi mengurangi sedihnya..”katanya.
“Iya ibu sama-sama.” Jawabku dengan mata kosong.
Semenjak itu, aku tidak lagi berpikiran aneh-aneh
tentang perasaan Pak Ardi. Aku mengubur rasa yang salah ini untuknya. Tetapi
aku tak akan pernah melupakan cinta pertamaku.
No comments:
Post a Comment