PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN
KONSUMSI OKSIGEN PADA HEWAN
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas praktikum mata kuliah Fisiologi Hewan yang diampu oleh Siti Nurkamilah, M.Pd.
Disusun Oleh :
Lutfi Moch Fauzi (17541003)
Ayu Mutia (17542003)
Elsa Nursafitri Utami (17542012)
Anisa Mutmainah (17543004)
Pina Yulianti (17543011)
Yuli Sumiati (17543018)
Yuli Sumiati (17543018)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS ILMU TERAPAN DAN SAINS
INSTITUT PENDIDIKAN INDONESIA (IPI) GARUT
2019
A. Judul Praktikum
Konsumsi Oksigen Pada Hewan
B. Tujuan
1. Untuk mengukur banyaknya konsumsi oksigen pada belalang
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi di dalam respirasi
3. Untuk mengetahui hubungan antara kecepatan respirasi pada hewan dengan kecepatan metabolismenya
C. Landasan Teori
Respirasi ialah proses penyederhanaan senyawa kimia dari zat makanan untuk mendapatkan energi. Pernafasan dapat diartikan sebagai proses yang dilakukan oleh organisme untuk menghasilkan energi dari hasil metabolisme. Ada dua macam pernafasan, yaitu pernafasan eksternal (luar) dan internal (dalam). Pernafasan luar meliputi proses pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 dan uap air antara organisme dengan lingkungannya. Pernafasan internal disebut juga pernafasan seluler karena pernafasan ini terjadi di dalam sel, yaitu di dalam sitoplasma dan mitokondria. Pernafasan seluler melalui tiga tahap, yaitu glikolisis, siklus krebs dan transfer elektron.
Proses respirasi tidak lepas dari adanya proses metabolisme. Metabolisme merupakan aktivitas hidup yang selalu terjadi pada setiap sel hidup. Metabolisme dapat kita golongkan menjadi dua yakni proses penyusunan disebut anabolisme dan katabolisme.
Insekta (serangga) bernafas dengan menggunakan tabung udara yang disebut trakea. Udara keluar masuk ke pembuluh trakea melalui lubang-lubang kecil pada eksoskeleton yang disebut stigma atau spirakel. Stigma dilengkapi dengan bulu-bulu untuk menyaring debu, serta dapat terbuka dan tertutup karena adanya katup-katup yang gerakannya diatur oleh otot. Tabung trakea bercabang-cabang ke seluruh tubuh dengan ukuran yang semakin halus. Cabang terkecil berujung buntu dan berukuran lebih kurang 0,1 milimikron. Cabang ini disebut trakeolus berisi udara serta cairan. Oksigen larut dalam cairan ini, kemudian berdifusi ke dalam sel-sel di dekatnya.
Jadi pada insekta oksigen tidak diedarkan melalui darah, tetapi melalui trakea. Pada belalang, keluar masuknya udara ke dalam trakea diatur dengan kontraksi otot perut. Ketika otot kendur, volume perut normal sehingga udara masuk. Ketika otot berkontraksi, volume perut mengecil sehingga udara keluar.
Udara masuk melalui 4 pasang stigma depan dan keluar melalui 6 pasang stigma abdomen. Dengan demikian, udara yang miskin O2 tidak akan bercampur dengan udara segar (kaya O2) yang masuk.
Reaksi kimia proses respirasi :
C6H12O6 + 6O2 ➡ 6CO2 + 6H2O + Energi
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi di dalam proses respirasi pada hewan, antara lain :
1. Faktor dalam
a. Aktifivitas tubuh
b. Kondisi fisik
c. Jenis kelamin
d. Berat badan
2. Faktor luar
a. Temperatur
b. Kadar O2 di dalam udara
c. Konsentrasi CO2 dalam udara
d. Kelembapam
D. Alat dan Bahan
1. Respirometer sederhana
2. Hewan percobaan (jangkrik)
3. Timbangan
4. Kristal KOH
5. Kapas
6. Cairan warna (methylen blue)
7. Vaselin
E. Cara Kerja
1. Ditimbang semua jangkrik dengan menggunakan timbangan elektrik
2. Diisiapkan respirometer sederhana dan diisi dengan Kristal KOH yang telah dibungkus dengan kapas.
3. Dimasukkan jangkrik pada botol respirometer dan ditutup dngan menggunakan vaselin agar tidak ada udara yang masuk.
4. Diberi methilen blue pada pipa skala dengan menggunakan pipet tetes
5. Diamati pergerakan methylene blue pada pipa skala dan dihitung pergerakannya setiap lima menit dan dilakukan pengulangan sebanyak tiga kali.
6. Dihitung konsumsi oksigen pada jangkrik dan dibandingkan konsumsi oksigen dari setiap jangkrik yang diamati.
F. Data Pengamatan
Jenis kelamin
|
Berat (gram)
|
Waktu
(menit)
|
Konsumsi O2 (ml)
|
Rata-rata (ml)
|
Konsumsi O2 (ml/menit/gram)
|
Keterangan
|
Jantan A
|
0,27
|
5’ I
|
0,2
|
0,23
|
0,17
|
Konsumsi O2 lebih banyak pada jantan yang paling berat.
|
5’ II
|
0,33
| |||||
5’ III
|
0,16
| |||||
Jantan B
|
0,29
|
5’ I
|
0,6
|
0,297
|
0,20
| |
5’ II
|
0,1
| |||||
5’ III
|
0,19
| |||||
Jantan C
|
0,23
|
5’ I
|
0,91
|
0,69
|
0,6
|
Konsumsi O2 lebih banyak pada jantan
|
5’ II
|
1,05
| |||||
5’ III
|
0,1
| |||||
Betina
|
0,23
|
5’ I
|
1,01
|
0,64
|
0,56
| |
5’ II
|
0,37
| |||||
5’ III
|
0,54
|
G. Pembahasan
Praktikum ini dilakukan untuk membuktikan proses pernafasan yang terjadi pada suatu hewan dan menentukan besar kecilnya oksigen yang dikonsumsi. Contoh hewan yang dijadikan sampel adalah jangkrik. Seperti yang kita ketahui bahwa jangkrik adalah salah satu dari insecta yang menggunakan trachea untuk bernafas. Proses pernafasan yang telah diamati adalah pernafasan eksternal yang meliputi proses pengambilan O2 dan pengeluaran CO2 dan uap air antara organisme dengan lingkungannya. Proses respirasi merupakan contoh dari salah satu jenis metabolisme yaitu katabolisme. Dalam hal ini yang diuraikan adalah glukosa (C6H12O6) menjadi CO2 , H2O dan energy.
Untuk membuktikan proses respirasi pada jangkrik, maka digunakan suatu alat yang disebut respirometer sederhana. Prinsip kerja respirometer adalah alat ini bekerja atas suatu prinsip bahwa dalam pernafasan ada oksigen yang digunakan oleh organisme ada karbondioksida yang dikeluarkan olehnya. Jika organiseme yang bernapas itu disimpan dalam ruang tertutup dan karbondioksida yang dikeluarkan oleh organisme dalam ruang tertutup itu diikat, maka penyusutan udara akan terjadi. Kecepatan penyusutan udara dalam ruang itu dapat diamati pada pipa kapiler berskala.
Dalam praktikum ini diperlukan bahan lain yang dapat membuktikan bahwa respirasi memang terjadi pada jangkrik tersebut. Bahan tersebut adalah kristal KOH dan methylen blue. KOH berfungsi untuk mengikat CO2 yang berada dalam tabung respirometer. Sedangkan metylen blue berfungsi sebagai indikator oksigen yang dihirup oleh organisme (jangkrik) pada repirometer sederhana.
Reaksi yang terjadi antara KOH dengan CO2 adalah sebagai berikut.
2KOH + CO2 → K2CO3 + H2O
Dengan meneteskan methylene blue, dapat diamati berapa ml oksigen yang dihirup oleh jangkrik tersebut. Dibuktikan dengan majunya methyle blue tersebut dari satu srip ke strip selanjutnya berdasarkan skala yang ada pada pipa respirometer sederhana tersebut. Satu strip adalah 0,01 ml. Untuk mengamati konsumsi O2 pada jangkrik dilakukan tiga kali pengulangan per lima menit. Setiap lima menit dihitung volume oksigen yang dihirup dengan cara mengalikan banyaknya strip yang dilewati dikali 0,01 ml.
Dilakukan perlakuan yang sama pada jangkrik lainnya yang mempunyai jenis kelamin yang sama dan yang mempunyai berat badan yang berbeda. Dari praktikum ini dapat diketahui factor factor yang mempengaruhi konsumsi oksigen ataupun frekuensi pernafasan organisme yang diujicobakan pada jangkrik.
Ternyata dari hasil praktikum dihasilkan data sebagai berikut.
Konsumsi O2 jangkrik jantan A sebesar 0,23 ml/5 menit/0,27 gram = 0,17 ml/menit/gram
Konsumsi O2 jangkrik jantan B sebesar 0,297 ml/5 menit/0,29 gram = 0,20 ml/menit/gram
Konsusmi O2 jangkrik jantan C sebesar 0,69 ml/5 menit/0,23 gram = 0,6 ml/menit/gram
Konsumsi O2 jangkrik betina sebesar 0,64 ml/5 menit/0,23 gram = 0,56 ml/menit/gram
Berdasarkan data tersebut dapat dibuktikan bahwa berat badan merupakan factor dalam yang mempengaruhi proses respirasi pada hewan. Konsumsi O2 pada jangkrik jantan B lebih banyak dari pada konsumsi O2 jangkrik jantan A. Ini membuktikan bahwa hewan yang jenis kelaminnya sama dan memiliki berat badan yang berbeda, konsumsi O2nya akan lebih banyak pada hewan yang lebih berat. Faktor selanjutnya yang mempengaruhi proses respirasi adalah jenis kelamin. Berdasarkan hasil praktikum, konsumsi O2 pada jangkrik jantan C dan jangkrik betina yang memiliki berat badan sama, akan lebih banyak pada jangkrik jantan. Ini membuktikan bahwa frekuensi pernafasan jantan lebih cepat daripada betina.
Selain factor berat badan dan jenis kelamin, terdapat factor lainnya yang mempengaruhi respirasi pada hewan antara lain factor internal dan factor eksternal. Faktor internal selain berat badan dan jenis kelamin adalah aktivitas tubuh dan kondisi fisik. Sedangkan factor eksternal yang mempengaruhi yaitu temperature, kadar oksigen di dalam udara, konsentrasi CO2 dalam udara dan kelembapan.
Jika dihubungkan dengan metabolisme, kecepatan respirasi menentukan cepat tidaknya metabolisme berlangsung. Semakin cepat respirasi artinya semakin banyak oksigen yang dikonsumsi, maka akan semakin banyak energy yang dihasilkan dari reaksi katabolisme tersebut.
H. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.
· Konsumsi oksigen pada jangkrik jantan lebih banyak daripada jangkrik betina
· Konsumsi oksigen pada jangkrik yang lebih berat akan lebih banyak daripada jangkrik yang lebih ringan
· Hubungan antara kecepatan respirasi dengan kecepatan metabolisme adalah berbanding lurus. Artinya semakin cepat respirasi, maka smakin cepat pula proses metabolisme dan semakin banyak pula energi yang dihasilkan.
Daftar Pustaka
Sri, Endang dan Kistinah, Idun. 2009.BIOLOGI.Jakarta: Pusat Departemen Pendidikan Nasional
Isnaeni, Wiwi. 2006.FISIOGI HEWAN.Yogyakarta:PT Kanisius

No comments:
Post a Comment