PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN
UJI GOLONGAN DARAH
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas praktikum mata kuliah Fisiologi Hewan yang diampu oleh Siti Nurkamilah, M.Pd.
Disusun Oleh :
Lutfi Moch Fauzi (17541003)
Lutfi Moch Fauzi (17541003)
Ayu Mutia (17542003)
Elsa Nursafitri Utami (17542012)
Anisa Mutmainah (17543004)
Anisa Mutmainah (17543004)
Pina Yulianti (17543011)
Yuli Sumiati (17543018)
Yuli Sumiati (17543018)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS ILMU TERAPAN DAN SAINS
INSTITUT PENDIDIKAN INDONESIA (IPI) GARUT
2019
A. Judul Praktikum
Uji Golongan Darah
B. Tujuan
Untuk mengetahui cara-cara menentukan golongan darah.
C. Landasan Teori
Golongan darah adalah pengklasifikasian darah dari suatu individu berdasarkan ada atau tidak adanya zat antigen warisan pada permukaan membran sel darah merah. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah tersebut. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian.
Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya, sebagai berikut :
1. Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif.
2. Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif.
3. Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif.
4. Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.
Untuk mengetahui golongan darah seseorang dapat dilakukan dengan pengujian yang menggunakan serum yang mengandung aglutinin. Dimana bila darah seseorang diberi serum aglutinin a mengalami aglutinasi atau penggumpalan berarti darah orang tersebut mengandung aglutinogen A. Dimana kemungkinan orang tersebut bergolongan darah A atau AB. Bila tidak mengalami aglutinasi, berarti tidak menngandung antigen A, kemungkinan darahnya adalah bergolongan darah B atau O.
Bila darah seseorang diberi serum aglutinin b mengalami aglutinasi, maka darah orang tersebut mengandung antigen B, berarti kemungkinan orang tersebut bergolongan darah B atau AB. Bila tidak mengalami aglutinasi, kemungkinan darahnya adalah A atau O. Bila diberi serum aglutinin a maupun b tidak mengalami aglutinasi, kemungkinan darahnya adalah O .
D. Alat dan Bahan
1. Blood lancet
2. Tusuk gigi
3. Kaca objek
4. Alkohol 70%
5. Kapas
6. Satu set antisera ABO
E. Cara Kerja
1. Dihapus ujung jari dengan menggunakan kapas yang telah direndam dalam alcohol 70%
2. Ditusuk jari tersebut dengan menggunakan blood lancet steril
3. Dihapus tetesan darah pertama dengan digunakan kapas beralkohol bersih hingga bersih
3. Dihapus tetesan darah pertama dengan digunakan kapas beralkohol bersih hingga bersih
4. Dipijat jari tersebut dengan perlahan hingga keluar darah dari luka tadi, kemudian diteteskan darah yang keluar pada gelas objek di dua tempat yang berbeda
5. Diteteskan satu tetes antisera A pada salah satu sisi dari tetesan darah tersebut, dengan cara yang sama diteteskan satu tetes antisera B pada tetesan darah yang satunya lagi
6. Diaduk tetesan masing-masing antisera dengan darah tersebut dengan digunakan ujung tusuk gigi secara terpisah
7. Dibiarkan beberapa saat, diperhatikan apa yang terjadi pada masing-masing campuran darah dan antisera tersebut, campuran mana yang terjadi penggumpalan dan mana yang tidak terjadi penggumapalan
F. Data Pengamatan
No
|
Nama
|
Antisera A
|
Antsera B
|
Antisera Ab
|
Rhesus
|
Golongan, Rhesus
|
1
|
Annisa
|
Menggumpal
|
Tidak menggumpal
|
Tidak menggumpal
|
Menggumpal
|
A +
|
2
|
Ayu
|
Tidak menggumpal
|
Tidak menggumpal
|
Tidak menggumpal
|
Menggumpal
|
O +
|
3
|
Elsa
|
Tidak menggumpal
|
Menggumpal
|
Tidak menggumpal
|
Menggumpal
|
B +
|
4
|
Lutfi
|
Menggumpal
|
Tidak menggumpal
|
Tidak menggumpal
|
Menggumpal
|
A +
|
5
|
Pina
|
Menggumpal
|
Tidak menggumpal
|
Tidak menggumpal
|
menggumpal
|
A +
|
6
|
Yuli
|
Tidak menggumpal
|
Tidak menggumpal
|
Tidak menggumpal
|
Menggumpal
|
O +
|
G. Pembahasan
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara-cara menentukan golongan darah. Kita mengenal beberapa sistem penggolongan darah, diantaranya adalah sistem A,B,O; sistem M,N; dan sistem Rhesus (Rh). Sistem penggolongan darah yang dilakukan dalam praktikum ini adalah sistem A B O dan sistem Rhesus. Sebelum membahas sistem ABO, maka perlu diketahui bahwa darah disusun oleh sel darah dan plasma darah. Sel darah dibagi menjadi eritrosit, leukosit, dan trombosit. Sedangkan plasma darah adalah cairan yang menyertai sel-sel darah. Contohnya seperti zat makanan dan mineral; zat hasil produksi dari sel-sel seperti enzim, hormone, dan antibody; protein dalam plasma darah yang terdiri atas antheofili, tromboplastin, protrombin, fibrinogen, albumin, dan gammaglobulin; dan karbon diokasida, oksigen dan nitrogen.
Di dalam protein darah terdapat cairan bening atau jernih yang disebut serum. Di dalam serum ini terdapat zat anbtibodi. Contoh dari antibody adalah aglutini yang akan menggumpalkan antigen, dengan aglutinasi terbentuk gumpalan-gumpalan yang terdiri atas struktur besar berupa antigen pada permukaannya, bakteri-bakteri, atau sel darah merah.
Aglutinin dan antigen (benda asing yang masuk dalam tubuh ) yang terkandung dalam darah seseorang menjadi penentu golongan darah sistem ABO. Di dalam darah manusia terdapat Aglutinogen (antigen) pada eritrosit dan aglutinin (antibody) yang terdapat di dalam plasma darah.
Aglutinin dibedakan menjadi aglutinin A dan agglutinin B. Apabila di dalam sel darah seseorang mengandung aglutinogen A dan serumnya mengandung agglutinin B dalam plasma darahnya, makan antiserum A akan menggumpalkan darah tersebut. Sehingga dapat ditentukan golongan darahnya yaitu A.
Sedangkan apabila di dalam sel seseorang terdapat aglutinogen B, sedangkan dalam plasma darahnya terdapat anglutinin A, makan antiserum B akan menggumpalkan darah tersebut. Sehingga dapat ditentukan golongan darahnya yaitu B.
Kemudian apabila di dalam sel darahnya terdapat aglutionogen A dan B, sedangkan dalam plasma darahnya tidak mengandung agglutinin, maka antiserum AB akan menggumpalkan darah tersebut, sehingga dapat ditentukan golongan darahnya yaitu AB.
Selanjutnya, apabila di dalam sel darah seseorang tidak terdapat aglutinogen sedangkan dalam serumnya mengandung agglutinin A dan B, makan darah tidak akan menggumpal jika ditetesi Antisera A, Antisera B, maupun Antisera AB. Sehingga dapat ditentukan golongan darahnya yaitu O.
Maka dari berbagai golongan darah tersebut dapat ditentukan donor universal yaitu golongan darah O, dan resipien universal yaitu golongan darah AB.
Pembahasan selanjutnya adalah sistem golongan darah Rhesus (Rh) yang pertama kali ditemukan pada jenis kera Macaca Rhesus pada tahun 1940 oleh K. Landsteiner dan Wiener.Pada jenis ini ditemukan antigen Rhesus pada eritrositnya. Sistem penggolongan darah rhesus juga berlaku pada manusia karena antigen Rhesus juga dimiliki oleh manusia. Orang yang memilki antigen rhesus dinamakan rhesus positif (Rh+), sedangkan yang tidak memilikinya dinamakan rhesus negative (Rh–). Sistem rhesus ini dikendalikan oleh gen dengan alel Rh dan rh. Alel Rh bersifat dominan terhadap alel rh (Waluyo, 2006: 180).
Pada wanita Rh– kalau mengandung embrio bergolongan Rh+, untuk kandungan pertama tidak apa-apa. Tetapi untuk kandungan kedua bergolongan Rh+ juga, maka akan terjadi eritroblastolis fetalis, artinya bayi yang lahir akan menderita anemia yang parah dan di dalam darah bayi banyak beredar eritroblast, yaitu eritrosit yang belum matang sehingga tubuh menjadi kuning. Hal ini disebabkan karena eritrosit janin akan kemasukan zat antibodi Rh+ dari darah dan mengaglutinasi eritrosit janin (Waluyo, 2006: 181).
Dari hasil praktikum maka dapat ditentukan golongan darah kami. Yaitu Elsa bergolongan darah B, Ayu golongan darahnya O, Anisa golongan darahnya A, Lutfi golongan darahnya A, Pina golongan darahnya A, dan Yuli golongan darahnya O. Maka yang dapat menjadi donor universal adalah Ayu dan Yuli, karena dalam darahnya tidak mengandung aglutinogen sehingga tidak akan terjadi penggumpalan. Sedangkan Lutfi, Anisa, dan Pina hanya dapat mendonorkan darah pada A lagi. Tetapi dapat menerima darah dari golongan A dan O. Sama halnya dengan Elsa yang bergolongan darah B, hanya dapat mendonorkan darah pada B lagi dan menerima darah dari B dan O.
H. Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa golongan darah yang terbanyak diantara kelompok kami adalah golongan A Rhesus + yang ditandai dengan menggumpalnya darah tersebut setelah ditetesi Antisera A. Golongan darah A positif, dapat menerima darah dari A positif dan O positif saja.
Daptar Pustaka
Sri, Endang dan Kistinah, Idun. 2009.BIOLOGI.Jakarta: Pusat Departemen Pendidikan Nasional
Isnaeni,Wiwi.2006.FISIOGI HEWAN.Yogyakarta:PT Kanisius
https://www.academia.com/tes-golongan-darah/


No comments:
Post a Comment