Saturday, January 19, 2019

Pembahasan Laporan Uji Vitamin C
Oleh Yuli Sumiati (17543018)
Institut pendidikan Indonesia
Program Studi pendidikan Biologi
                                                                             
Praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan kadar vitamin C dari suatu sampel. Yang digunakan yaitu vitamin C dengan merk vitacimin. Vitamin C atau nama lainnya asam askorbat memiliki sdtruktur molekul sebagai berikut.

Memliliki nama kimia 1,4-dioksifuran-5,6-diol-heksenon
 Memiliki beberapa gugus diantaranya: keton, alcohol, berikatan rangkap dua /alkena dan terdapat bentuk cincin furan.
Vitamin C ini memiliki fungsi utama sebagai antioksidan atau mencegah reaksi oksidasi  dalam tubuh karena dapat bertindak sebagai inhibitor, yaitu zat yang berfungsi menghambat (menghentikan) reaksi. Dalam hal  ini yaitu menghambat reaksi oksidasi dalam tubuh.
Percobaan ini menggunakan prinsip reaksi redoks dengan metode titrasi iodimetri. Iodimetri adalah metode penentuan kuantitatif yang dasar penentuannya adalah jumlah I2 yang bereaksi dengan cuplikan atau terbentuk oleh cuplikan kalau direaksikan dengan ion I⁻. dasar reaksi iodimetri adalah
I2 + 2e⁻ ( 2I⁻
Kesetimbangan reaksi diatas dapat berjalan baik ke kiri maupun ke kanan. Pada reaksi 1 I2 bertindak sebagai sebagai oksidator, sedangkan pada reaksi 2 I2 bertindak sebagai reduktor.
 Ditimbang sebanyak 0,02 gram vitacimin lalu  dihancurkan dengan mortar. Kemudian ditambahkan 250 mL akuades  dan disaring.  5 mL filtrate diambil kemudian ditambahkan  larutan amilum 2ml . larutan amilum yang digunakan yaitu ekstrak kanji yang dipanaskan.  Penambahan indicator amilum ini bertujuan sebagai katalis reaksi. Kemudian ditambahkan lagi 20 mL akuades.  Setelah itu, larutan dititrasi dengan larutan I2 0,15%.
100 mL larutan I2 0,15%  dibuat dengan menggunaknan betadin dengan  rumus sebagai berikut.
                                                                                      P1.V1=P2.V2
Keterangan:
P1 = persentase kadar iodin dalam botol, yaitu 10%
V1 = volume iodin yang akan diambil dari botol
P2 = persentase kadar larutan iodin yang akan dibuat, yaitu 0,15%
V2 = volume larutan yang akan dibuat, yaitu 100 mL
Maka dari hasil perhitungan diperoleh volume betadin yang harus diambil untuk dibuat 100 mL larutan iodin adalah 1,5 mL.
Reaski yang terjadi pada saat titrasi berlangsung adalah sebagai berikut.


Asam askorbat memiliki rumus molekul yang berikatan rangkap. Ketika bereaksi dengan larutan iodin, maka ikatan rangkapnya akan hilang. Sesuai dengan sifatnya bahwa ikatan rangkap bersifat tak jenuh dan mudah lepas. Maka dengan adanya atom lain yaitu iodin yang memiliki keelektronegatifan lebih kecil dari atom karbon, masing-masing atom karbon akan melepaskan ikatan rangkapnya dan menarik iodin supaya keadaannya stabil dan jenuh. Hasil reaksinya yaitu    

Vitamin C merupakan reduktor yang sangat kuat. Artinya vitamin C akan mengalami kenaikan bilangan oksidasi / muatan. Sedangkan I2 berperan sebagai oksidator yang akan mengalami penurunan bilangan oksidasi/muatan. Reaksi reduksi oksidasi yang terbentuk adalah sebagai berikut.

Larutan iodin yang tadinya tidak memiliki muatan, karena direduksi oleh asam askorbat menjadi memiliki muatan yaitu 2I⁻. itulah yang disebut dengan reduksi penurunan bilangan oksidasi dari 0 menjadi -1.  Sedangkan asam askorbat dioksidasi oleh I2 sehingga tadinya tidak memiliki muatan menjadi bermuatan 2H⁺.
Selain reaksi asam askorbat dengan larutan iodin, larutan kanji pun bereaksi dengan larutan iodin. Reaksi yang terjadi adalah reaksi dapat balik sebagai berikut.
I2 + amilum ( I2-amil (kompleks)
Kompleks iod-amilum ini adalah senyawa yang agak sukar larut dalam air sehingga kalau pada reaksi ini I2 tinggi, kesetimbangan akan terletak jauh disebelah kanan, kompleks iod-amilum yang terbentuk banyak, akan terjadi endapan. Akibatnya kalau pada titrasi I2 “hilang” karena tereduksi , kesetimbangannya tidak segera kembali bergeser kea rah kiri, warna kompleks iodamilum agak sukar hilang.
Teori mengatakan bahwa titik akhir titrasi dicapai pada saat I2 dan amilum bereaksi kemudian menunjukkan warna biru pada larutan. Tetapi pada praktikum yang dilakukan, tidak ditemukan perubahan warna menjadi biru , melainkan titrasi dihentikan pada saat titik ekivalen yaitu warnanya berubah dari tidak berwarna menjadi kuning oranye. Pada saat praktikum, dilakukan perlahan dan dibawah labu Erlenmeyer disimpan tisu supaya dapat diketahui perubahan warnanya dan langsung titrasi dihentikan. Seharusnya titrasi dilakukan perlahan tetes demi tetes, tetapi karena kami merasa perubahannya sangat lambat, maka klep pengaturnya kami putar sedikit demi sedikit supaya perubahan warna cepat terjadi. Akibatnya tetesan yang keluar lupayan banyak dan cepat. Dan perubahan warna pun cepat terjadi. Warna pun berubah dengan cepat. Lalu dihentikan titrasi tersebut. Titrasi dilakukan dua kali supaya mendapatkan hasil yang akurat. Pada titrasi pertama volume titer yaitu 11,5 mL dan pada titrasi kedua titer yang bereaksi adalah 6 mL. Maka didapatkan volume rata-rata yaitu ,8,75 mL.  setelah volume rata-rata didapat, dihitung massa ekivalen vitamin C dan massa vitamin C untuk menentukan kadar vitamin C tersebut.
Massa ekivalen vitamin C dihitung dengan rumus sebahai beriku:
               Massa ekivalen vitamin C = Volume rata-rata zat penitrasi  x  Normalitas I2
               Dan didapatkan hasil massa ekivalen vitamin C adalah 1,3125
Sedangkan berat vitamin C dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
              Massa vitamin C =M ek Vit C 1000 ×BE Vit C  
              Dan dihasilkan berat vitamin C yaitu 0,18375
Kadar vitamin C dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
              Kadar vit C =massa vitamin C berat sampel vitamin C×100%
            Dan didapatkan  kadar vitamin C yang terkandunng dalam suplemen vitamin C dengan merk Vitacimin adalah  1,84 %
Kadar vitamin C dari hasil praktikum ini terbilang cukup kecil karena setidaknya kadarnya mendekati 100%. Kesalahankesalahan yang mungkin terjadi yang mengakibatkan nilai kadar yang sangat kecil ini diakibatkan oleh beberapa hal , diantaranya sebagai berikut.
Vitamin C atau asam askorbat  mudah teroksidasi yang pada praktikum ini disebabkan karena gelas kimia yang berisi larutan vitamin C tersebut lama terbuka.
Reaksi oksidasi yang terjadi pada vitamin C adalah sebagai berikut.




Asam askorbat sangat mudah teroksidasi menjadi asam dehidroaskorbat yang masih mempunyai keaktifan sebagai vitamin C. Asam dehidroaskorbat secara kimia sangat labil dan dapat mengalami perubahan lebih lanjut menjadi asam diketogulona yang tidak memiliki keaktifan sebagai vitamin C lagi.
Sampel vitamin C yang digerus dan dilarutkan tidak semuanya terlarut, mengingat vitamin C yang dapat mencair pada suhu tinggi yaitu sekitar 190-192°C. sedangkan pada praktikum yang dilakukan pelarutnya adalah pelarut dingin. Itu menyebabkan adanya sisa filtrate yang tidak lolos saring dan berpengaruh pada kadar vitamin C yyang dititrasi.
Senyawa titer yaitu larutan I2 bersifat sangat mudah menguap. Dan apabila itu terjadi, maka akan mengubah konsentrasi I2 tersebut. Berhubung buretnya terbatas, maka harus menunggu kelompok lain terlebih dahulu. Sedangkan larutan iodin sudah disiapkan dan tidak di tutup. Itu menyebabkan larutan iodin sedikit-sedikit menguap dan konsentrasinya pun berubah.
Reaksi oksidasi larutan I2 oleh udara adalah sebagai berikut.
4 I + O2 + 4H⁺( I2 + 2H2O
Oksidasi ini berjalan lambat dalam keadaan netral, tetapi apabila keadaan asam bertambah, maka akan lebih cepat. Sinar mataharipun dapat mempercepat reaksi itu . oleh karena itu titrasi harus segera dilakukan.
Senyawa iodin atau I2 merupakan zat yang mudah terurai  oleh cahaya. Maka pada penyimpanannya seharusnya menggunakan gelas kimia berwarna coklat. Dan pada saat titrasi pun seharusnya menggunakan buret berwarna coklat.



No comments:

Post a Comment