Thursday, July 25, 2019

Lanjutan Novel CINTA DALAM DIAM

“Ayo bareng saya saja.” katanya. Dosen kimia itu ternyata. Karena tidak ingin kecapean, Akupun ikut.
“Kamu kemana pulanngnya? Ke salawu ya?”tanyanya.
“Iya Pak.” Jawabku.  Dimobil kami berbincang bincang tentang pelajaran Kimia.
Tak lama kemudian, mobil berhentii depan rumahku,  aku pun berpamitan pada dosen itu dan mencium tangannya. Dosen itu tersenyum manis padaku.
Hari demi hari ternyata tidak banyak berubah. Mataku mencari dosen itu. Pasti yang pertama kali dilihat adalah mobil kijang putihnya, jika tidak ada mungkin hariku tidak seindah jika ada.
“Raiya” suara itu terdengar tak asing. Ternyata Nova yang memanggilku.
“Eh denger denger kamu kemarin pulang sama Pak Ardi ya ?” tany Nova.
“Loh darimana kamu tahu?” tanyaku heran.
“Tadi Rini yang kasih tau aku.” Jawabnya.
“Oh Rini ? iya memangnya kenapa?” Tanyaku.
“Eh kok kamu mau maunya sih diajak pulang bareng sama pak itu?” Tanya Nova heran.
“Ya … emangnya kenapa ? ada yang salah?lagi pula kan lumayan aku ga perlu keluar ongkos. Hehe.” Jawab ku.
 “Iya.. tapi kann orang-orang bilang kalo Pak Ardi tuh orangnya genit tau suka gitu sama mahasiswi” kata Nova.
 “Ah masa sih ? perasaan waktu di mobil juga ga ada yang aneh kok. Biasa aja ngobrol juga biasa aja.” Tapi dalam pikiranku aku tersenyum. Cuma.. ya sedikit sih yang membuatku kami ketawa waktu itu. Pak Ardi itu memiliki tingkat kepedean yang cukup tinggi. Di usianya yg sudah  punya anak dua, dia masih ingin di sebut ganteng sama mahasiswi. Ku ingat ucapannya waktu itu, saat kami membicarakan umurnya.
“Tapi saya masih mudakan kelihatannya?” entah kenapa aku sering senyum senyum sendiri kalo inget saat itu.
 “ Raiya..! Raiya.!” Tanpa sadar aku senyum-senyum sediri saat ngobrol sama Nova.
“Ari kamu kenapa?” Nova tanya aku.
“Eh iya apa? Gak papa kok. Hehe..” jawabku.
“Atau ada hubungannya sama pak Ardi ya?” perkiraan Nova.
 “Eh apaan ngga ngga.” Jawabku.
“Atau jangan-jangan kamu suka lagi sama Pak Ardi?”tanya dia.
“ Hah? Gak mungkin.” Saat itu sepertinya Nova kebingungan melihat ekspresi mukaku.  Waduh bahaya ini.
“Inget kamu ya.. Pak Ardi itu udah punya istri.”
Keningku berkerut. “Iya memang dia udah punya istri dan  dua anak.”
“Iya makannya itu, kamu  jangan punya pikiran anehya.”Nova melarang.
 “Emang pikiran apa ? ah sudahlah kamu justru yang pikirannya kemana mana”. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ku kira memang mungkin ada yang salah dengan diriku ini. Entah kenapa saat melihat dia, suasana hatiku yang tadinya buruk, berubah 180 derajat. Apalagi kalo ada yang ngatain dia. Hampir kata semua mahasiswa, Pak Ardi itu orangnya Pelit banget sama nilai, udah gitu, orangnya genitan, suka aneh sama mahasiswi. Tapi kurasa itu bagaimana sikap kita masing masing saja. Karena setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda-beda terhadap seseorang.
Justru aku merasa jauh lebih tau dari mereka tentang bagaimana Pak Ardi, dari obrolan kita waktu aku nebeng pulang waktu itu.
Kadang aku sering kasihan sama Pak Ardi. Selama seminggu, dia harus jauh jadi keluarganya. Dan hanya pulang saat Sabtu Minggu saja. Aku juga sering melihat status Whatsappnya yang sangat menunjukkan bahwa dia rindu sekali dengan keluarganya.
Waktu itu bulan Ramadhan, kampus kami tetap saja mengadakan KBM . Pagi itu mata kuliah praktikum Biokimia.
“Adek adek, karena Pak Ardi sedang sakit, jadi beliau akan masuk terlambat.” Kata kak Widya yang menjadi Asdos mata kuliah Biokimia saat itu.
Setelah setengah jam kemudian, Pak Ardi masuk lab. Kasihan sekali, ternyata dia sakit perut gara-gara makan makanan yang sudah basi saat sahur tadi pagi. Entah mengapa aku sangat kasihan sama Pak Ardi. Jika saja ada istrinya mungkin Pak Ardi gak akan sakit perut. Hari itu pun dia terlihat lemas.
“Apa bapak baik baik saja ? atau mungkin ingin saya belikan obat?” Tanyaku pada Pak Ardi.
“Ah tidak usah, Bapak tidak apa apa. Terima kasih perhatiannya ya Raiya.” mungkin sakitnya tidak terlalu parah. Itu sebabnya Pak ardi menolak untuk diberikan obat. Kami berdua barenngan keluar Lab. Aku berpamitan. “Saya duluan ya Pak” anehnya setiap kali berpamitan, kurasa genggaman tangannya lebih erat. Dan saat kupandang wajahnya. Selalu dia tersenyum. Pikirku, ah mungkin ke semua mahasiswapun begini. Ternyata tidak, saat kusampaikan kejadian ini pada teman temanku.  
Aku menuju Masjid kampus, dan Pak Ardi menuju ruang dosen.
Hari hariku berubah setelah ku mengenal Pak Ardi. Rasanya ingin terus belajar mata kuliahnya. Mulai aku merasa ada yang aneh pada diriku sampai aku menyadari bahwa aku menyukai Pak Ardi yang usiannya beda 18 tahun dengan aku.

No comments:

Post a Comment